Home Nasional Mengenal Duck Syndrome yang Viral di Media Sosial, Ini Pengertian dan Dampaknya

Mengenal Duck Syndrome yang Viral di Media Sosial, Ini Pengertian dan Dampaknya

0
SHARE

 

Matanurani, Jakarta – Istilah duck syndrome belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial X (Twitter). Fenomena ini menjadi viral setelah banyak warganet merasa kondisi tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang serba terbuka.

Perbincangan ini salah satunya dipicu oleh unggahan akun X @0xh***** pada Selasa (19/5/2026). Dalam cuitannya, ia membagikan penjelasan singkat mengenai duck syndrome yang kemudian memicu diskusi luas di kalangan pengguna media sosial.

“Kalian pernah dengar ‘duck syndrome’ nggak? Duck syndrome itu kondisi saat seseorang kelihatannya santai, hidupnya aman-aman saja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendam sendiri,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu langsung ramai mendapat respons warganet. Hingga Kamis (21/5), cuitan tersebut telah memperoleh lebih dari 300 komentar dan dibagikan ulang lebih dari 30 ribu kali.

Banyak pengguna X mengaku merasa terhubung dengan kondisi tersebut, karena adanya tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja di media sosial, meski sebenarnya sedang menghadapi masalah atau kelelahan mental.

Apa Itu Duck Syndrome?
Mengutip laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), istilah duck syndrome pertama kali populer di Stanford University untuk menggambarkan kondisi mahasiswa yang tampak tenang dan mampu menjalani kehidupan akademik maupun sosial dengan baik, padahal sebenarnya mengalami tekanan besar. Sesuai namanya, sindrom ini dianalogikan seperti seekor bebek yang sedang berenang.

Di atas permukaan air, bebek terlihat tenang, anggun, dan tanpa kesulitan. Namun di bawah permukaan, kakinya bergerak sangat cepat untuk menjaga keseimbangan agar tetap terapung.

Konsep ini juga sejalan dengan teori dari sosiolog Erving Goffman yang menjelaskan bahwa manusia memiliki “panggung depan” (front stage) dan “panggung belakang” (back stage) dalam kehidupan sosialnya. Di panggung depan, seseorang cenderung menampilkan citra terbaiknya, sementara di balik itu bisa saja menyimpan tekanan atau masalah pribadi.

Fenomena duck syndrome tidak bisa dianggap sepele karena dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang. Berikut beberapa dampak yang bisa muncul:

1. Burnout kronis, akibat kelelahan fisik dan emosional yang terus-menerus dipendam.
2. Gangguan kecemasan dan depresi, karena emosi negatif tidak tersalurkan dengan baik.
3. Isolasi emosional, di mana seseorang merasa sendirian meski terlihat memiliki banyak teman atau pengikut di media sosial.

Duck syndrome dapat dicegah mulai dari hal sederhana, yaitu berani jujur pada diri sendiri saat merasa lelah, stres, atau kewalahan. Tidak perlu selalu terlihat baik-baik saja, karena memendam emosi justru bisa membuat tekanan semakin menumpuk.

Selain itu, kurangi dorongan untuk tampil sempurna, terutama di media sosial. Tidak semua yang terlihat di dunia digital mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga penting untuk tidak membandingkan diri secara berlebihan.

Penting untuk membuka diri kepada orang terdekat, sehingga mengurangi beban pikiran. Jika diperlukan, mencari bantuan profesional seperti psikolog bisa menjadi langkah tepat untuk menjaga kesehatan mental. (Rmo).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here