Matanurani, Jakarta – Keputusan Presiden Prabowo Subianto membacakan langsung Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di Parlemen dinilai sebagai langkah strategis yang krusial. Kehadiran langsung kepala negara di podium DPR RI ini dinilai efektif untuk membangun kembali kepercayaan publik sekaligus meredam kecemasan para investor.
Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengungkapkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia saat ini tidak lagi sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan mengelola persepsi publik terhadap masa depan fiskal nasional.
“Urgensi utama dari pidato langsung Presiden sebenarnya terletak pada kebutuhan membangun kembali kepercayaan,” ujar Achmad Nur Hidayat di Jakarta, Rabu (20/5).
Menjawab Kecemasan Pasar Atas Beban APBN
Menurut Achmad, dalam beberapa bulan terakhir mulai muncul riak kecemasan di kalangan pelaku pasar terkait kondisi ketahanan fiskal negara. Meskipun defisit APBN secara formal masih berada di batas aman, tekanan pembiayaan dirasakan semakin berat. Di sisi lain, penerimaan negara mulai melambat akibat merosotnya harga komoditas global.
Beban ini kian kontras dengan melonjaknya kebutuhan belanja pemerintah untuk mendanai berbagai program strategis, mulai dari subsidi energi, proyek infrastruktur, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Investor membaca situasi ini dengan sangat sensitif. Mereka tidak hanya melihat angka APBN, tetapi juga konsistensi kebijakan. Ketika pelaku pasar melihat arah fiskal berpotensi melebar tanpa kepastian sumber pendapatan yang kuat, maka yang muncul adalah sikap kehati-hatian,” urai Achmad.
Oleh karena itu, kehadiran Prabowo di DPR RI pada Rabu pagi ini menjadi jawaban konkret atas kegelisahan tersebut. Langkah ini menegaskan bahwa kemudi ekonomi nasional dipegang langsung oleh pimpinan tertinggi negara, bukan berjalan parsial di tingkat kementerian teknis.
“Pidato Presiden hari ini menjadi lebih dari sekadar seremoni kenegaraan. Ia berubah menjadi panggung penegasan arah ekonomi nasional sekaligus upaya meredam spekulasi negatif,” tambahnya.
Tradisi Baru di Tengah Badai Geopolitik Global
Langkah Presiden Prabowo ini terbilang tidak biasa. Pada tahun-tahun sebelumnya, pidato pendahuluan KEM-PPKF untuk RAPBN lazimnya diwakili dan dibacakan oleh Menteri Keuangan.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyebut kehadiran langsung Prabowo ini sebagai torehan tradisi baru dalam tata cara penyampaian kerangka ekonomi makro di hadapan legislatif.
Presiden Prabowo Subianto sendiri tidak menampik bahwa keputusannya turun langsung ke Senayan dipicu oleh situasi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Indonesia, tegasnya, sedang dikepung oleh tantangan geopolitik dan geoekonomi global yang penuh konflik serta ketidakpastian.
“Kita sekarang sebagai bangsa menghadapi tantangan geopolitik dan geoekonomi yang penuh dengan konflik, ketegangan, dan ketidakpastian. Oleh karena itu, karena kondisi yang kita hadapi seperti ini, saya berpendapat bahwa Presiden Republik Indonesia harus hadir langsung menyampaikan pokok-pokok pikiran perekonomian dan pengelolaan negara,” pungkas Presiden Prabowo. (Ini) .





































