Home News Peneliti: Popularitas Tak Jadi Penentu Dipilih dalam Pilkada 2018

Peneliti: Popularitas Tak Jadi Penentu Dipilih dalam Pilkada 2018

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Pilkada Serentak 2018 memasuki puncaknya. Hari ini, Rabu (27/6/2018) sebanyak 171 daerah melakukan pencoblosan. Masyarakat memilih mulai dari wali kota, bupati, hingga gubernur.

Masing-masing pasangan calon yang maju di Pilkada 2018 sudah melakukan yang terbaik agar mendapat perhatian dari masyarakat. Semua berusaha untuk menarik hati dan suara dari para pemilih.

Menurut Peneliti Senior KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo, masih ada hubungan popularitas dengan elektabilitas pasangan calon.

“Ada korelasi, dalam artian yang popularitasnya tinggi, maka elektabilitas tinggi,” ujar Kunto di Jakarta.

Namun, ia mengingatkan popularitas bukan satu-satunya. Kunto mencontohkan di Pilkada Jawa Barat yang memiliki empat pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul Ulum, TB Hasanuddin-Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dan Dedi Mizwar-Deddy Mulyadi.

“Dari survei, popularitas Dedi Mizwar yang tinggi, di atas 91 persen. Ridwan Kamil popoularitasnya di bawah 90 persen, antara 80-85 persen, tapi ketika di survei terakhir terbalik,” ucap Kunto.

Popularitas Bukan Satu-satunya

Dengan begitu, Kunto menegaskan jika popularitas bukanlah satu-satunya menjadi acuan agar dipilih oleh para pemilih.

“Popularitas membuat elektabilitas tinggi, tapi itu bukan satu-satunya. Ada beberapa faktor yang terkait dengan popularitas, misalnya berdasarkan pengetahuan warga,” jelas Kunto.

Sehingga, Kunto berharap para pemilih dapat memilih berdasarkan visi, misi, dan hal-hal lain yang bisa dipandang secara rasional.(Cen).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here