Home Benny's Wisdom Menambah Utang atau Menghemat Anggaran?

Menambah Utang atau Menghemat Anggaran?

0
SHARE

 

NEGARA semakin tergantung pada Utang. Saat ini utang pemerintah RI telah mencapai Rp 10 ribu Triliun. Memang angka utang ini sering disebutkan masih belum mencapai batas 60% dari PDB dan angka defisit APBN belum mencapai 3% dari PDB sehingga dinyatakan masih aman. Namun kata AMAN perlu dimaknai dengan kata WASPADA.

Mengapa waspada? Menurut saya, orang terdidik dan profesional akan lebih mengutamakan pengelolaan risiko. Hanya orang biasa yang fokusnya mengejar pertumbuhan ekonomi. Sebelum risiko datang sudah diantisipasi terlebih dahulu. Risiko gagal bayar utang sangat membahayakan karena menyangkut eksistensi dan kedaulatan negara.

Sepanjang APBN defisit dan utang lama harus dibayar pokok dan bunganya setiap tahun dari APBN, maka Negara akan selalu membuat utang baru. Pemerintah senang jika surat utangnya laku apalagi jika oversubscribe di pasar.

Utang selalu membuat dinamika, fenomena, dan ketidakpastian. Akibatnya sangat multi dimensi.

Sejumlah negara yang mengalami gagal bayar harus memasuki krisis yang dalam dan berkepanjangan. Mata uangnya terjun bebas, inflasi ratusan persen, banyak usaha yang bangkrut dan investor angkat tikar. Tersisa hanya angka pengangguran dan kemiskinan yang membengkak. Ujungnya penjarahan dan krisis politik. Terakhir dialami negara Yunani. Banyak warganya harus mengungsi ke berbagai negara mencari kehidupan yang lebih beradab.

Sepanjang mengadopsi kebijakan defisit fiskal seperti Indonesia, maka permasalahan ekonomi cenderung menjadi lingkaran setan yang tak berujung. Solusi jangka pendek berakibat pada permasalahan jangka panjang. Defisit APBN makin besar maka timbunan utang makin tinggi pula.

Kita pelajari bahwa jika utang terus bertambah maka nilai mata uang pasti terus melemah dan akibatnya inflasi. Mengatasi masalah ini, kebijakan moneter akan memilih mengintervensi dengan melepas US Dollar dari kantong devisa negara ke pasar. Bisa juga bank sentral memperketat uang beredar dengan menaikkan suku bunga. Lainnya, bisa pula menerbitkan Surat Berharga/ Obligasi dengan kupon yang makin tinggi.

Dampak berikutnya akan dirasakan oleh sektor riel, industri dan UMKM. Impor bahan baku akan mahal karena US Dollar menguat sementara ekspor seharusnya meningkat jika tidak ada hambatan di produksi, logistik, dan sebagainya. Akhirnya Neraca perdagangan akan defisit dan devisa negara makin menipis. Ujungnya terjadi tripple defisit: FISKAL, Neraca Perdagangan, dan Neraca Pembayaran. Saat ini Indonesia sedang menghadapi masalah defisit tripple ini.

Bagi masyarakat konsumen, masalah utamanya adalah penurunan daya beli karena Inflasi dan pengangguran. Kepercayaan masyarakat dan investor terhadap pemerintah yang sah akan terjun bebas.

Ketidaktabilian ekonomi akan segera bergeser menjadi kerusuhan dan goncangan politik. Utang membuat kedaulatan negara tergerus.

Dari uraian di atas, angka pertumbuhan utang perlu diwaspadai dengan tata kelola yang transparan dan agar dipergunakan untuk anggaran pembangunan yang produktif dan secara efisien. Penggunaan Utang untuk membiayai MBG, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan sebagainya perlu dikaji lebih matang. Disiplin anggaran dan pemberantasan korupsi harus benar-benar ditegakkan. Kalau tidak, utang akan menggulung dan membahayakan NKRI. Negara yang berdaulat, bersatu, adil dan makmur akan sulit diwujudkan. Indonesia Emas bisa kita wujudkan jika kita kembali pada prinsip good governance dan mengikuti kaidah kaidah ekonomi secara disiplin dan fokus pada pembangunan SDM yang tangguh dan unggul serta memiliki karakter mulia.

Senoga hal ini bisa kita renungkan bersama di hari Uang Tahun Kemerdekaan RI ke 81 ini.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Ir. Benny Pasaribu, PhD.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here