Home Benny's Wisdom Bom Waktu Pengunduran Diri Gubernur Bank Indonesia

Bom Waktu Pengunduran Diri Gubernur Bank Indonesia

0
SHARE

 

Oleh: S Benny Pasaribu, MEc., PhD

GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiwo Mengundurkan diri pada hari Senin, 27 Juli 2026 setelah menjabat hampir 8 tahun sebagai Gubernur BI dan 5 tahun sebagai Deputi Gubernur. Minggu lalu Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) Nanik S Deyang juga mengundurkan diri walaupun belum 2 bulan menjabat. Peristiwa ini fenomenal karena baru dalam masa pemerintahan ini terjadi berturut turut pejabat Tinggi mengundurkan diri. Periode kepemimpinan sebelumnya sangat jarang terjadi di Indonesia. Selain itu, Ketua OJK Mahendra Siregar juga mengundurkan diri. Presiden menerima pengunduran diri pejabat dengan mengeluarkan KEPPRES. Sah mengundurkan diri dan segera diganti dengan pejabat baru. Apakah selesai persoalan pada titik ini? Tampaknya belum selesai.

Banyak orang bertanya alasan pengunduran diri pejabat ini? Apakah dipaksa mundur atau memang merasa tidak mampu lagi mengatasi masalah yang ada? Kepala BGN mengatakan alasan pengunduran dirinya karena kesehatan yang memerlukan pengobatan intensif. Percaya atau tidak, faktanya begitu besar beban masalah di BGN setelah kasus korupsi berjamaah dipimpin oleh mantan kepala BGN Prof Dadan.

Lain lagi dengan pengunduran diri Gubernur BI. Alasannya masih belum jelas. Tentu saja alasan personal. Tetapi publik ingin tau penyebabnya secara jujur. Kalau ditutupi, maka wajar jika publik menduga duga. Paling jelek dugaannya adalah karena dipaksa mundur. Persoalan makin panjang dan bisa menjadi kontroversial. Siapa yang memaksa, apa kesalahannya, dan seterusnya. Mudah mudahan Ada penjelasan resmi yang dapat diterima akal sehat.

Mari kita coba bahas kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini. Mungkin Ada hubungannya dengan pengunduran diri Gubernur BI. Data Ekonomi menunjukkan nilai kurs Rupiah melemah hingga di sekitar Rp 18.000 per USD. BI telah berusaha keras menahan pelemahan kurs dengan mengintervensi pasar sampai menghabiskan devisa sekitar USD 10 milyar namun tidak kurs tetap bertengger di angka 18.000 an. Selain itu, angka inflasi juga sudah melebihi perkiraan, mencapai di atas 3%. Kedua indikator ini memang tanggung jawabnya ada di BI. Namun bisa saja berkilah bahwa pelemahan kurs dan tingginya inflasi bukan disebabkan semata-mata kesalahan kebijakan BI. Kebijakan pemerintah juga dapat menjadi penyebabnya, misalnya terjadi perubahan kebijakan yang dirasakan tidak pro pasar dan ketidakpastian hukum. Akibatnya terjadi capital outflow dan investor mengambil posisi wait and see. Mungkin ada juga yang telah mengalihkan modalnya ke negara lain.

Kepiawaian BI menghadapi masalah pelemahan kurs, inflasi dan likuiditas uang beredar di pasar. Kebijakan moneter ketat dengan menaikkan suku bunga dan intervensi pasar belum berhasil menstabilkan nilai Rupiah. Likuiditas pasar terasa makin kering sehingga UMKM terpangkas mencari alternatif pinjaman diluar perbankan, seperti Pinjaman Online. Lagi lagi, pengunduran diri Gubernur BI perlu dibuka alasannya agar terang benderang. Apakah Pak Perry merasa gagal atau Ada alasan lain.

Peristiwa ini pastilah mendapat perhatian luas baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ini juga meninggalkan bom waktu yang sewaktu waktu dapat meledak. Masalah utang dan Lapangan kerja berkualitas sangat memprihatinkan terutama bagi generasi muda dan usia kerja produktif. Warga masyarakat banyak yang terlilit utang Pinjol untuk membiayai kehidupan sehari hari. Jika semua masalah ini digeser ke tahun berikutnya maka akan semakin besar masalahnya karena kita akan masuk ke tahun politik. Hati hati bisa meledak ‘duarrr’ seperti krisis dan peristiwa 1998.

Semoga Tuhan memberikan hikmat kebijaksanaan kepada Presiden dan timnya sehingga negara kaya ini mampu Mengelola kekayaannya untuk sebesar besar kemakmuran rakyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here