Matanurani, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks perkembangan harga (IPH) mengalami penurunan di 21 provinsi pada minggu pertama Agustus 2026. Perkembangan tersebut menunjukkan harga pangan di lebih banyak daerah mengalami penurunan dibandingkan kenaikan.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, penurunan IPH terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Papua Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.
“Sekitar 21 provinsi mengalami penurunan IPH. Jadi 21 provinsi mengalami penurunan IPH, mulai dari Papua Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan seterusnya,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (10/8).
Dari 21 provinsi tersebut, BPS mencatat 10 kabupaten/kota dengan penurunan IPH tertinggi. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Tanah Datar, Bolaang Mongondow Selatan, Mahakam Ulu, Kepulauan Talaud, Minahasa, Sarmi, Minahasa Tenggara, Tambrauw, Kepulauan Sangihe, dan Mongondow Timur.
Pada level kabupaten/kota, jumlah daerah yang mengalami penurunan IPH juga lebih banyak dibandingkan wilayah yang mencatat kenaikan. BPS mencatat 161 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH, sedangkan 65 kabupaten/kota mengalami kenaikan.
“Jadi yang mengalami penurunan IPH lebih banyak dibandingkan dengan yang mengalami kenaikan IPH,” kata Amalia.
Daging Ayam dan Sapi Jadi Perhatian
Meski tren penurunan lebih dominan, BPS tetap mengawasi sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang kenaikan IPH di beberapa daerah. Daging ayam ras dan daging sapi menjadi perhatian karena harga kedua komoditas tersebut meningkat di hampir seluruh provinsi yang mengalami kenaikan IPH.
Untuk wilayah Sumatera, perkembangan harga daging ayam ras dan beras menjadi komoditas yang dicermati. Sementara di Jawa, BPS memberikan perhatian terhadap pergerakan harga daging ayam ras dan daging sapi.
Adapun di wilayah luar Jawa dan Sumatera, kenaikan IPH terutama dipengaruhi oleh harga cabai rawit, daging ayam ras, serta daging sapi.
BPS juga melihat perkembangan harga dengan mempertimbangkan level harga dan perubahan IPH. Hasil pemantauan menunjukkan terdapat sejumlah komoditas yang mengalami perubahan IPH relatif rendah meskipun level harganya berada pada kategori sedang hingga tinggi.
Menurut Amalia, daging sapi dan bawang putih memiliki level harga yang relatif sedang dengan perubahan IPH yang rendah. Sementara itu, beras dan minyak goreng berada pada level harga relatif tinggi, bahkan terdapat harga yang telah melampaui harga eceran tertinggi (HET).
“Untuk daging ayam ras, dia level harganya masih relatif rendah, tetapi perubahan IPH-nya relatif tinggi,” jelas Amalia.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga daging ayam ras yang cukup tinggi, meskipun tingkat harganya masih berada dalam kategori rendah. (Bes).




































