
Matanurani, Jakarta – Meski industri pengolahan Indonesia terlihat gagah dengan pertumbuhan 5,30 persen sepanjang 2025, realita di lapangan ternyata tak seindah angka di atas kertas. Lembaga riset NEXT Indonesia Center mewanti-wanti adanya ketimpangan tajam yang bisa memicu bom waktu pengangguran.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko mengapresiasi industri logam dasar dan mesin yang tumbuh pesat, masing-masing 15,71 persen dan 13,98 persen. Namun, industri seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, serta karet dan plastik masih jauh tertinggal.
Bahkan, industri karet dan plastik mencatat performa buruk dengan kontraksi sebesar 4,07 persen pada 2025.
Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi,” ujar Christiantoko dalam siaran persnya dikutip Senin (30/3).
Kekhawatiran ini didasari pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat sektor industri pengolahan menyerap 20,3 juta tenaga kerja per Agustus 2025, atau 13,86 persen dari total nasional. Jika sektor padat karya terus melemah, potensi pengangguran massal menjadi ancaman nyata.
Dari sisi investasi, meski realisasi di sektor manufaktur mencapai Rp780,9 triliun, kontribusinya terhadap total investasi nasional justru menurun dari 42,08 persen pada 2024 menjadi 40,44 persen pada 2025. Penurunan ini dipicu oleh stagnasi penanaman modal asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN).
Christiantoko menekankan perlunya kebijakan reindustrialisasi yang menyasar revitalisasi sektor padat karya, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan distribusi investasi.
“Langkah ini diperlukan agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
BPS mencatat, selain logam dasar dan mesin yang menjadi primadona, subsektor kimia, farmasi, serta barang logam dan elektronik menunjukkan performa stabil.
Namun, performa positif tersebut kontras dengan kondisi industri pakaian jadi dan kayu yang hingga kini masih menghadapi hambatan besar dalam persaingan biaya produksi global. (Ini).



































