Hal terpenting dalam setiap lomba, pertandingan, kompetisi, rivalitas, pilkada, dan apapun yang lain, adalah menata hati untuk dua kemungkinan: menang atau kalah, dengan cara benar atau salah, dengan niat baik atau jahat, dan seterusnya.
Dua pilihan itu harus dikelola sebaik mungkin agar yang menang tidak sombong, dan yang kalah tidak merasa salah. Bahkan agar yang menang tidak dengan mengalahkan (dalam konotasi negatif). Dalam Bahasa Jawa ungkapannya yaitu ‘menang tanpo ngasorake’.
Dalam kaitan dengan pilkada, lain lagi soalnya. Menata hati bukan hanya pada masa pasca, tetapi jauh sebelumnya yaitu masa pra dan proses. Dalam praktek ternyata banyak yang gagal menata hati. Sebab semua pihak (berapapun pihak yang terlibat) merasa pasti menang, harus menang, dan berupaya sekuat tenaga sebisa-bisa menang. Tidak mengherankan banyak hal ganjil, muskhil, aneh, bahkan ajaib dilakukan-dijalani-dilakoni dan ‘dibiarkan’ terjadi. Meskipun mungkin itu bermakna salah-fitnah-bohong-curang-dungu-munafik-musrik dan entah apa lagi.
Tidak sulit mencari cerita nyata untuk membuktikan tiap kata yang kurang pantas dinyatakan (diucapkan-ditulis-digambarkan) oleh seseorang atau sekelompok orang yang mengaku taat beragama sebenarnya. Tapi begitulah yang terjadi. Tidak terlalu salah ungkapan umum yang menyatakan ‘politik menghalalkan cara’.
***
Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya atas kekalahan kesebelasan Indonesia kemarin petang. Prihatin? Ya. Tapi marah, emosi, mencak-mencak, bahkan marah-marah; jangan! Mari kita simak isi berita media online malam ini: Kesebelasan Indonesia Usia 22 sore tadi kalah telak 1 -3 dari Kesebelasan Myanmar (gabungan tim yunior dan senior).
Judul berita media selengkapnya berbunyi : Kesebelasan Indonesia vs Kesebelasan Myanmar pada Uji Coba Laga Persahabatan Internasional, Selasa (21/3) mulai pukul 16:00 WIB yang digelar di Stadion Pakansari, Bogor, berakhir dengan kekalahan telak Indoneisa dengan skor 1 – 3.
Dengan bahasa dan gaya penulisan apapun berita tentang pertandingan sore tadi pada Intinya adalah Indonesia kalah. Dalam banyak variasi kebahasaan bisa disebut: dipermalukan, takluk, dibungkam, tekuk-lutut, mengakui keunggulan lawan, kebobolan, salah strategi, dan entah apa lagi.
Dalam kamus sepakbola masyarakat pasti maklum adanya adu strategi, adu stamina, pola permainan, persiapan, dukungan penonton, kondisi stadion, cuaca dan banyak lagi alasan untuk menang atau kalah. Dan petang tadi kita kalah.
Kita terlanjur optimistis bahwa masa persiapan tim kita dengan pelatih pelatih kepala anyar dari Spanyol Luis Milla cukup memadai. Namun bola itu bundar. Setelah berhasil memasukkan satu gol melalui sundulan Nur Hardianto menyebabkan tim mengendurkan serangan dan bahkan melakukan banyak kesalahan. Serangan balasan berrtubi-ubi dan pertahanan tim Indonesia lemah. Maka Tim tamu pun melesakkan tiga gol dengan begitu mudahnya.
Betapapun kekalahan merupakan hal yang menyakitkan, namun sebuah pertandingan bukan semata soal kalah dan menang. Di sana juga ada pembelajaran untuk mawas diri dan mematangkan kebugaran-ketrampilan – kecerdasan setiap pemain pada pertandingan berikutnya. Meski pada persiapan banyak pihak menyatakan harapan untuk mengalahkan Tim Myanmar cukup besar, kenyataan berkata lain!
***
Kalah, ya siapa yang ingin dalam posisi itu? Tapi bukankah masih ada pertandingan yang akan datang, yang lebih besar, bergengsi dan menantang? Juga bukankah kekalahan itu menjadi pelajaran terbaik untuk kelak meraih kemenangan? Menang dengan cara yang baik, yang benar, yang terhormat, serta terutama menang dengan dilandasi semangat sportivitas yang tinggi. Mestinya dalam politik pun ada semangat sportivitas itu. Jangan sampai wasit, hakim garis, pengawas pertandingan, serta penonton ikut bermain.
Soal kalah, kalau mau cari alasan kenapa? Jawabannya gampang. Indonesia dibatasi usia 22 tahun, sedangkan Myanmar usia pemainnya campuran (yunior dan senior). Tapi kenapa mau, apa tidak dibicarakan sebelumnya, ‘kan jadi tidak seimbang? Dan banyak pembelaan lain. Ya, tapi kenapa mau?
Bila persoalan itu terjadi dalam arena politik tepatnya terkait Pilkada) mudah diduga apa yang akan terjadi kemudian. Tak lama akan terjadi saling hujat, saling salahkan, merebak hoax, sindir-menyindir, mengkafir-kafirkan, pasang spanduk ini dan itu, dan banyak praktek saling tuduh curang kepada lawan politik. Pilgub DKI Jakarta menjadi contoh gampang dan gamblang soal itu.
Bila semua pihak tidak mampu lagi menahan emosi, menahan diri, merasa diri paling benar, dan berbagai bentuk kegagalan dalam menata hati; maka kekacauan fisik-mental-spiritual antar warga masyarakat akan terus mengancam. Dan bila hal itu terjadi sulit dibayangkan bagaimana negeri ini akan mampu menanggulanginya. . . .!
***
Kembali pada judul tulisan ini, ajakan saya : Mari menata hati untuk belajar kalah! Pengalaman luka batin dari Pilpres dua tahun lalu -yang hingga kini terasa belum sembuh- janganlah ditambahi lagi dengan luka lain yang jangan-jangan tak akan tersembuhkan.
Sebagai negeri yang mayoritas penduduknya Muslim tentu tidak akan berkiblat pada pertikaian yang terjadi pada beberapa negar a di Timur Tengah. Di sana perang berlangsung bertahun-tahun dan menimbulkan bencana kemanusiaan yang teramat mengerikan. Ketika perang pecah maka senjata pemusnah massal dari negara manapun berdatangan. Bukan hanya kota dan fasilitas fisik lain yang hancur; nilai-nilai moral, agama, dan kemanusiaan pun berantakan.
Dalam kondisi itu semua musnah, semua kalah. Tidak ada yang tersisa selain penyesalan, tangisan, dan kejahatan perang yang tak terperikan.
Maka sekali lagi, alangkah baiknya bila kita bersedia kembali menata hati untuk belajar kalah, siapapun yang kalah. Dalam olahraga akita bias belajar kalah. Mestinya dalam politik pun kita mampu belajar kalah. Belajar untuk menyikapi kemenangan itu gampang, namun belajar untuk menerima kekalahan sungguh tidak mudah. . . ..! Begitu saja.
Bandung, 22 Maret 2017





































