Entah mengapa Al-Khaththtath yang ditangkap dengan dugaan isu makar, namun Fahri Hamzah yang sibuk nyinyir. Jokowi seperti menjadi orang yang terdepan untuk nyinyir kepada Jokowi. Entah ada hubungan apa antara Fahri dan Al-Khathtath sehingga harus sedemikian ngotot dalam melakukan pembelaan. Yang pasti, Fahri adalah orang yang paling senang jika negara Indonesia rusuh serta pemerintahan Jokowi tidak stabil.
Nyinyir kepada Jokowi sudah seperti hobi yang sudah menjadi karakter Fahri. Belum pernah sekalipun saya mendengar Fahri memuji Jokowi. Dasar tidak tahu malu. Masih untung tidak dipecat dari DPR padahal sudah tidak punya partai.
Kali ini, dia kembali nyinyir. Fahri Hamzah menilai, rapat yang membicarakan aksi demonstrasi maupun mendorong adanya sidang istimewa bukan sebuah tindak kejahatan.
Oleh karena itu, dia menuding ada tekanan dari pihak tertentu kepada kepolisian terkait tudingan upaya makar. Dia mencontohkan, saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat sebagai presiden, terjadi aksi massa yang membawa seekor kerbau bertuliskan “SBY”. Namun, pemerintahan ketika itu tidak menuding adanya upaya makar dari pihak tertentu.
Fahri menduga, ada pihak-pihak yang ingin menghibur Presiden Joko Widodo dengan cara yang salah. Fahri meminta agar kepolisian berhenti bermain-main dengan tudingan makar.
“Makar itu sudah hilang dari undang-undang dan konstitusi. Polisi jangan bermain-main, jangan merusak lembaga kepolisian, profesional yah. Perbedaan pendapat jangan dilarang, diskusi jangan dilarang, niat demo dan sebagainya jangan dilarang. Itu halal semuanya, legal semuanya,” ujar Fahri.
Polisi menyatakan telah memiliki alat bukti untuk menangkap kelima terduga makar, termasuk Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad al-Khaththath.
“Penangkapan ini berkaitan telah ditemukan bukti-bukti cukup tentang adanya tindak pidana pemufakatan makar,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Polri Brigjen Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (31/3).
Luar biasa ! Betapa Fahri begitu meremehkan isu makar, bahkan menganggapnya tidak ada makar untuk saat ini. lebih parah lagi, Fahri mengatakan bahwa makar itu sudah hilang dari undang-undang dan konstitusi, padahal undang-undang tentang makar sangat jelas dan masih berlaku. Fahri iri dengan Jokowi bahkan semenjak belum menjadi presiden.
Tidak sulit untuk menebak mengapa sikap Fahri selalu seperti ini kepada pemerintah. Sudah sejak lama Fahri membenci Jokowi.
Fahri adalah orang yang sangat menjelek-jelekkan Jokowi ketika sedang bertarung melawan Prabowo. Fahri bahkan mengatakan ‘sinting’ kepada janji Jokowi yang akan meresmikan hari santri.
Fahri juga menjadi orang yang ikut di garda depan saat aksi 411. Bersama Fadli Zon, Fahri mengajak peserta aksi 411 untuk masuk ke gedung DPR-MPR. Ini salah satu tindakan yang sangat berbahaya dan mengarah ke makar.
Wajar Fahri akan selalu mendukung jika ada aksi-aksi yang berpotensi membuat Indonesia rusuh. Jika sudah rusuh, maka akan sangat mudah untuk menggulingkan pemerintahan Jokowi.
Ketika ketua MUI, Pemerintah, Ketua PBNU, Muhammadiyah, Polri, dan tokoh yang lain melarang aksi-aksi yang dilakukan oleh FUI dan FPI, Fahri justru membela dengan dalih tidak dilarang undang-undang.
Ketika Polisi menangap Al-Khaththtath karena sudah menemukan bukti yang mengarah ke makar sesuai undang-undang yang berlaku, Fahri justru mengatakan makar sudah tidak ada di undang-undang dan konstitusi.
Benar-benar selalu menggunakan standar ganda. Demo diperbolehkan dengan alasan dilindungi undang-undang, namun ketika polisi menangkap Al-Khaththtath sesuai dengan undang-undang, malah dinyinyiri oleh Fahri.
Jujur saya heran mengapa orang seperti Fahri masih dipelihara di DPR. Kerjanya hanya tidur dan nyinyir kepada Jokowi. Hampir tidak ada prestasi yang ditorehkan Fahri selama di DPR. Hanya satu prestasi yang hanya ditorehkan Fahri, yaitu menjadi anggota DPR namun tidak memiliki partai.
Tidak hanya nyinyir, Fahri justru dengan keji menuduh ada pihak yang ingin menghibur dengan cara yang salah. Meskipun Fahri tidak menyebutkan nama, namun sudah sangat jelas siapa yang dimaksud. Aktor penangkapan Al-Khaththath tidak lain adalah pemimpin tertinggi Polri, yaitu Tito Karnavian.
Fahri sedang menuduh Tito menghibur Jokowi dengan cara yang salah. Gila bener, pencegahan ancaman makar yang sudah jelas masih dibilang upaya untuk menghibur Jokowi. Saya penasaran Jika Polisi tidak berhasil mencegah aksi makar dan aksi makar benar-benar terjadi, apa Fahri masih akan menyebut ini hanya sebuah sinetron?




































