Home Nasional BI Nilai Ketidakpastian Global Mereda Triwulan II Tahun Depan

BI Nilai Ketidakpastian Global Mereda Triwulan II Tahun Depan

0
SHARE
Perry Warjiyo

Matanurani, Jakarta – Bank Indonesia (BI) melakukan rapat kerja bersama Komisi XI DPR untuk pembahasan anggaran tahunan BI untuk 2019. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan rapat ini untuk memperoleh persetujuan dari komisi XI.

Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan, perkembangan ekonomi terkini dan sejumlah tantangan akan mempengaruhi kinerja anggaran Bank Indomesia. Secara global, awal 2018 yang sebelumnya diperkirakan akan membaik, dalam perkembangannya di awal tahun pertumbuhan global dari prediksi akan mencapai 3,9% ternyata lebih rendah yakni 3,7%.

Pertumbuhan di dunia, kata Perry, terpantau semakin tidak merata. Menurutnya Amerika Serikat (AS) makin tumbuh kuat ekonominya dan negara berkembang tumbuh lebih rendah dari perkiraan. Sementara itu, normalisasi ekonomi moneter di AS berjalan lebih cepat dari perkiraan.

Ketidakpastian keuangan global menjadi semakin tinggi dengan munculnya ketidakpastian global, berbagai perkembangan itu mengakibatkan dolar menguat dan mendorong aliaran dana keluar dari negara berkembang.

“Ini yang akan pengaruhi nilai tukar maupun ekonomi kita.  Perkembangan ketidakpastian global masih akan berlangsung khususnya dalam jangka pendek ke depan. Tapi akan membaik pada triwulan kedua 2019. Langkah di dalam negeri akan diperkuat, sehingga akan mebuat stabilitas ekonomi kita terjaga,” ujar Perry di gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (17/10).

Di tengah tingginya ketidakpastian tersebut ekonomi Indonesia,kata Perry, kita masih cukup kuat dalam menyikapi masalah. Sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik, Perry memproyeksikan keseluruhan defisit berjalan di 2018 akan dapat berada di bawah batas yang sustainable di bawah 3% PDB. Di 2019, angka itu dapat dijaga di 2,5% PDB.

Untuk nilai tukar, ketidakpastian dari global juga terjadi di seluruh mata uang dunia. Pada saat ini rupiah bergerak di kisaran 15.200 per dolar AS.

“Kami melihat depresiasi rupiah year to date, sekitar 10,78% pada Oktober. Masih lebih baik dibandingkan dengan India, Brasil maupun Turki. Akhir tahun kurs diperkirakan relatif stabil sekitar 14.300 per dolar AS, lebih tinggi dari 13.400 per dolar AS dalam APBN 2018,” ungkapnya.

Namun dengan menurunnya ketidakpastian di tahun ini, lanjut Perry, sejalan dengan itu, nilai tukar yang 15.200 akan bergerak menguat di 14.800 sampai 15.200.

“Kami akan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dengan suku bunga BI menjadi 5,75% di sepanjang tahun ini,tujuannya untuk menjaga daya tarik Indonesia, serta untuk menurunkan defisit transaksi berjalan dan juga melakukan intervensi ganda,” tuturnya.

Menurut Gubernur BI, di 2018 RATBI yang telah disampaikan masih didasarkan atas asumsi makro dalam RAPBN. Dengan melihat perekonomian terkini, pihaknya sedang melakukan penghitungan kembali RATBI 2018 dengan tentu saja melihat perkembangan indikator.

“Kami siap menyampaikan hal tersebut dengan panja komisi XI,” tukas Perry. (Mei).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here