Home Benny's Wisdom Benny Pasaribu: Pemerintah Perlu Membimbing Petani Lada

Benny Pasaribu: Pemerintah Perlu Membimbing Petani Lada

0
SHARE
Ketua Pokja Pangan KEIN, Benny Pasaribu bertukar cenderamata kepada Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman saat kunjungan kerja ke Bangka Belitung, Kamis (19/4).

Matanurani, Bangka – Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pangan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Benny Pasaribu mengatakan pemerintah perlu membimbing para petani lada untuk mendorong dan mengembalikan kejayaan potensi lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Dari segi mutu, lada Babel terbaik di dunia dan ini dicari-cari, jangan diserahkan ke mekanisme pasar, pemerintah perlu membimbing petani lada, karena ini warisan budaya dari nenek moyang,” kata Benny dalam pertemuan KEIN bersama Gubermur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi  Rosman, di ruang rapat Tanjungpendam, Kamis (19/4).

Benny mengatakan Babel harus bersyukur memiliki keunggulan komparatif seperti lada yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Itu sebabnya, kata Benny kunjungan kerja KEIN sejalan dengan substansi roadmap atau peta jalan Industrialisasi Indonesia 2045 yang telah diserahkan kepada Presiden Jokowi.

Adapun peta jalan industrialisasi tersebut terdiri dari 4 sektor industri prioritas masing-masing industri agro, maritim, pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Secara khusus dalam roadmap Industrialisasi Agro, KEIN telah mengajukan 30 komoditas prioritas, salah satunya adalah lada. Kalau bicara lada berarti bicara tentang Bangka Belitung, sebagai produsen utama lada yang sudah terkenal di mancanegara,” ungkap Benny.

Kunjungan ini juga, kata Benny, untuk mendorong dan membangkitkan para petani lada di Bangka Belitung, sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya serta menjaga kualitas lada yang dihasilkan dan menjadi prospek yang sangat baik bagi perekonomian di Bangka Belitung.

Sementara Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman mengapresiasi kunjungan KEIN ke Babel. Ia menyampaikan keunggulan lada di Babel memiliki tingkat kepedasan 6-7 persen sangat berbeda dengan provinsi maupun negara lain.

“Saya senang dan berbangga KEIN bisa datang ke Babel dan kami minta ada suatu kebijakan nantinya terhadap lada kita. Karena lada kita ini memiliki tingkat kepedasan yang tinggi, berbeda dengan Kalimantan atau Makasar yang hanya 2,9 – 3 persen seperti Vietnam, sedangkan Babel memiliki tingkat kepedasan sampai 6-7 persen,” kata Erzaldi.

Namun begitu, Erzaldi mengatakan masih ada beberapa tantangan yang dihadapi pemerintah provinsi seperti bibit dan pengairan kebun lada warga saat musim panas. Selain itu tantangan lainnya adalah produktifitas lada di Babel yang masih rendah.

“Produktifitas lada Vietnam itu bisa mencapai 2-3 ton/ hektare, sedangkan lada Babel baru 400-500 kg. Saya bersyukur perhatian pemerintah pusat soal lada mendapatkan bantuan bibit lada, tahun ini kita sudah melelang 3,2 juta bibit, Insya Allah bertambah 5,2 juta bibit lagi. Tahun depan 6 juta bibit yang luasannya sekitar 3.800 hektare,” katanya.

Ia mencontohkan Vietnam tidak lagi mengejar harga, namun mendongkrak produktifitas. Menurutnya pemerintah provinsi saat ini sudah mengembangkan sistem resi gudang.

“Kita sekarang sudah mulai menggerakkan sistem resi gudang, tapi ini belum bisa kita lakukan optimal karena perlu sosialisasi yang tinggi. Resi gudang ini tidak cukup satu, jadi dimana-mana ada gudangnya,” katanya.

Ia menambahkan pihaknya juga akan melakukan edukasi kepada petani tentang lada, baik dari pra tanam hingga pasca tanam, pasalnya saat ini penanaman lada juga harus menggunakan teknologi dalam lada.(Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here