Matanurani, Jakarta – Narasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam setiap pidatonya dianggap selalu memunculkan kontroversi di publik.
Hal itu disampaikan jurnalis senior Lukas Luwarso dalam podcast Madilog bersama Darmawan Sepriyossa dikutip pada kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin, (3/8).
Menurut Lukas, pidato Prabowo banyak berisikan omon-omon dan tidak pernah menimbulkan inspirasi bagi rakyat. “Isinya adalah, kalau istilah saya boleh ditekankan, dia (Prabowo) sedang mengalami ‘diare kata-kata’.
Jadi kayak orang diare, tapi ini kata-kata. Jadi mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dikontrol, itu kemudian jadi sesuatu yang patologis,” kata Lukas.
Ia memaklumi apabila ‘diare kata-kata’ hanya terjadi sekali atau dua kali dalam pidatonya. Namun mantan Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) ini menilai hampir di setiap pidato Prabowo mengalami ‘diare kata-kata’
“Kalau sekali dua kali pidato mengalami penyakit diare kata-kata, kita maklum lah. Tapi kalau setiap kali pidato sekarang selalu memunculkan istilah-istilah aneh makian, umpatan, hardikan yang umumnya ditujukan kepada rakyat, kepada kelompok-kelompok kritis, itu kan tidak bisa disebut lain, selain memang ‘diare kata-kata’,” jelasnya.
Lukas menyebut bahwa hal itu disebabkan karena adanya berbagai peristiwa politik yang akhirnya menjadi bebean Prabowo hingga saat ini.
“Ya karena ada virus yang mendominasi pemikiran Prabowo. Dia ini kan politikus yang mengalami banyak trauma. Kita ingatlah tahun 1998. Prabowo berada di epicentrum gempa tektonik politik Indonesia. Dia harus ke Yordan selama lebih dari setahun. Dan kemudian dia membawa beban politik di punggungnya kalau dia dianggap, benar atau tidak, kita tidak pernah sepenuhnya tahu, bahwa dia dianggap ikut memicu kerusuhan 98,” pungkasnya. (Rmo).




































