Matanurani, Jakarta – Untuk mempercepat pengembangan industri nasional, pemerintah akan membentuk Komite Industri Nasional (Kinas). Sehingga dapat memfasilitasi penyelerasan secara nasional, lintas kementerian/lembaga, dan lintas pemangku kepentingan.
“Dengan adanya Kinas kita ingin membangun komunikasi yang berkelanjutan. Yakni dalam kaitannya dengan revolusi industri ke-4,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam keterangan pers usai memimpin Rapat Koordinasi pembahasan Roadmap Implementasi Industri 4.0, di Jakarta Kamis (29/3).
Darmin meminta Menteri Perindustrian untuk segera melengkapi susunan Kinas. Selain itu, perlu dibuat peta yang lebih rinci dari masing-masing sektor. “Mana yang lebih spesifik diprioritaskan. Contoh industri kimia dan mamin itu jalurnya kan ada banyak,” katanya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang hadir dalam rakor tersebut mengatakan, pihaknya telah merancang “Making Indonesia 4.0”. Hal itu sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era industri 4.0.
“Jadi memang diperlukan koordinasi, baik itu terkait dengan harmonisasi regulasi dan insentif-insentif fiskal. Serta infrastruktur telekomunikasi dan sebagainya,” jelas Airlangga.
Ada lima fokus sektor yang yang mendapat perhatian, yakni Industri Makanan dan Minuman, Industri Tekstil dan Busana, Industri Otomotif, Industri Elektronik, dan Industri Kimia. Nantinya, Kementerian Perindustrian akan mencari proyek-proyek percontohan industri yang sudah menjalankan industri 4.0 di masing-masing sektor.
“Itu adalah 5 sektor yang demand-nya terbesar di dunia. Sekitar 80 persen dunia itu menghendaki 5 produk tersebut. Beberapa di antaranya juga memiliki domestic market yang kuat untuk daya saing kita. Jadi itu yang akan jadi prioritas,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, Indonesia beraspirasi untuk menjadi top 10 ekonomi dunia di tahun 2030. Momentum saat ini adalah waktu yang tepat untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia.
“Kita targetkan ekspor netto Indonesia dapat kembali ke level yang sama di tahun 2000, yaitu dengan konstribusi 10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” terangnya.
Target lainnya, lanjut Airlangga adalah peningkatan kontribusi manufaktur terhadap PDB menjadi 25 persen. Serta tambahan lapangan pekerjaan. “Tidak perlu khawatir untuk persoalan tenaga kerja. Dengan adanya implementasi roadmap ini akan membuat industri meningkatkan eksistensi dan melakukan ekspansi, sehingga justru akan membutuhkan tenaga kerja baru,” pungkasnya. (Ind).




































