Home Nasional Tahun Politik, Peluang UMKM untuk Tumbuh Lebih Tinggi

Tahun Politik, Peluang UMKM untuk Tumbuh Lebih Tinggi

0
SHARE

Matanurani, Medan – Di era perekonomian global dan domestik yang dinamis, ekonom menilai sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) akan dapat tumbuh lebih tinggi.

Hal itu dikatakan ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara dalam Entrepreneur Networking Forum di Medan, Sumatra Utara, Kamis (19/7).

“Saya lebih optimistis memandang peluang industri pada 2019, khususnya untuk UMKM dapat tumbuh lebih tinggi di tengah era digital dan tantangan tahun politik,” katanya.

Bhima menuturkan bahwa platform perdagangan digital atau e-commerceturut membantu pemasaran produk-produk UMKM. Keberadaan transportasi online yang juga memudahkan proses distribusi UMKM hingga ke level daerah juga membuat proses pengantaran makanan hingga jual beli barang menjadi lebih cepat dan murah.

Apalagi, dinamika ekonomi global seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China, selain membawa tantangan juga menyimpan peluang bagi pelaku UMKM, seperti yang bergerak di bidang elektronik dan minyak nabati.

Menurutnya, ini kesempatan yang harus digunakan secepatnya untuk masuk menggenjot ekspor China yang berpenduduk 1,3 miliar.

“Jadi kita harus memandang ekonomi di 2019 dengan rasa optimistis, event politik justru membawa banyak peluang bisnis, yang terpenting terus inovatif dan jeli membaca situasi. Permintaan global cukup solid, tapi pelaku usaha perlu mencermati efek perang dagang dan fluktuassi kurs rupiah,” tutur Bhima.

Dia memperkirakan perekonomian Indonesia pada 2019 akan tumbuh sekitar 5,2% dengan didukung sektor logistik, transportasi, konstruksi, dan perdagangan. Secara khusus untuk perekonomian Provinsi Sumatra Utara, diproyeksikan akan tumbuh di level 5,4% pada tahun depan.

Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Sumut selalu berada di atas rata-rata ekonomi nasional sebesar 5% (year on year), di atas rata-rata pertumbuhan Sumatra sebesar 4,43% (yoy).

Pertumbuhan tersebut menujukkan daya tahan ekonomi Sumut cukup baik di tengah dinamika kondisi ekonomi domestik maupun global. Faktor pendorong ekonomi di Sumut adalah sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Harga komoditas, khususnya minyak kelapa sawit dan karet, yang diharapkan segera mengalami pemulihan akan mendorong ekspor Sumut menjadi lebih tinggi.

“Kuncinya adalah memperbesar porsi industri pengolahan yang bernilai tambah dan penetrasi pasar domestik. Semakin besar produk bernilai tambah yang dihasilkan oleh Sumut, maka kekhawatiran fluktuasi harga komoditas tidak menjadi masalah utama lagi.”

Lebih lanjut, Bhima juga menyoroti sektor lain yang prospektif di Sumut yakni pariwisata dan pendukungnya, seperti kuliner serta suvenir dan perdagangan pada umumnya. Terlebih, bidang pariwisata juga memiliki efek langsung terhadap penyerapan tenaga kerja.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, Bhima mengatakan sepanjang 2015-2017 bidang perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi mampu menyerap tambahan 1,11 juta tenaga kerja per tahun, paling tinggi dibandingkan sektor lainnya.

“Momentum pilkada dan pilpres juga diharapkan menjadi stimulus tersendiri bagi dunia usaha, seperti bisnis akomodasi dan perhotelan, makanan jadi, air minum dalam kemasan, biskuit dan rokok. Tapi bisnis yang sensitif terhadap regulasi seperti Batubara mungkin akan ada efeknya, mereka akan wait and see menunggu ketidakpasatian selama tahun politik,” pungkas Bhima. (Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here