Matanurani, Surabaya – Jawa Timur mengikuti jejak Brebes, Jawa Tengah yang mengekspor bawang merah hasil panen petani. Ekspor tersebut dilakukan melalui Surabaya yang menuju ke Singapura dan Thailand.
Untuk ekspor tersebut, Kementerian Pertanianmenggandeng PT Aman Buana Putera dan CV Bawang Mas 99.
Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengungkapkan, selain bentuk dari swasembada, ekspor tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan harga bawang merah di pasaran.
’’Sekarang banyak petani yang melapor bahwa harga bawang merah mulai turun. Ini berarti terjadi oversupply,’’ ujar Sujono, Senin (28/8).
Meski demikian, Spudnik menyatakan, stok bawang di dalam negeri tidak akan terganggu ekspor. Hal tersebut perlu dijaga agar harga domestik tidak terganggu.
’’Selain ekspor, kami mendorong industri pengolahan agar mengambil stok dari petani,’’ tuturnya.
Jumlah bawang merah yang diekspor mencapai 247,5 ton dengan nilai USD 436.500 atau setara Rp 4,7 miliar.
Bawang merah yang diekspor tersebut diambil dari petani di Bima, NTB.
Ekspor bawang merah kali ini dibagi menjadi sembilan kontainer. Lima peti kemas akan dikirim ke Thailand. Sisanya dikirim ke Singapura.
PT Aman Buana Putera berencana mengekspor sepuluh kontainer bawang merah lagi bulan depan.
Spudnik mengatakan, pihaknya kini telah memberlakukan sistem manajemen tanam untuk mengatur pola penanaman bawang merah.
Sebab, jika semua daerah menanam dan memanen bawang pada waktu yang sama, akan terjadi kelebihan pasokan.
Selain itu, stok bawang bisa habis pada waktu yang sama pula.
’Kami usahakan setiap bulan ada yang menanam. Setiap daerah nanti bergiliran, disesuaikan dengan waktunya,’’ katanya.
Dia juga menekankan kepada para pengusaha untuk berinvestasi di industri hulu agar produksi bisa naik dan kualitas produk bawang semakin bagus.
Sebab, jika pengusaha hanya menunggu anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), pengembangan sektor hortikultura tidak akan berjalan dengan cepat. (Jpn).





































