Home Nasional Didik Pemilih Pemula, LIPI Gelar Diskusi Peran Media Internet

Didik Pemilih Pemula, LIPI Gelar Diskusi Peran Media Internet

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Internet adalah berkah di era kemajuan teknologi saat ini. Namun, di saat bersamaan, internet juga ,menjadi musibah bagi orang yang memanfaatkannya dengan tidak bijak. Hal itu terungkap dalam diskusi “Peran Media Internet Bagi Pemilih Pemula” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Politik  LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di auditorium LIPI, Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (18/7).

Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Firman Noor mengatakan, acara ini bagian dari sebuah pendidikan politik bagi pemilih pemula. “Ini merupakan kebanggaan. Karena langsung berhadapan dengan adik-adik. Untuk diketahui, kegiatan ini dimotori tim website kami yang punya cukup ide brilian,” katanya.

Adapun kegiatan ini dihadiri tiga narasumber. Di antaranya, komisioner KPU Wahyu Setiawan,  Peneliti pusat penelitian politik LIPI, Wawan Icwanuddin dan Founder and Executive Director Youth Initiative for Political Participation.

Dalam penjelasannya, Wahyu Setiawan mengatakan internet membawa berkah sekaligus musibah. Dari 24 jam, internet hanya  bermanfaat beberapa menit saja bagi generasi millenial. Dialog yang dilakukan KPU di daerah saat penyuluhan manfaat penggunaan internet tidak lebih banyak untuk menambah ilmu atau menambah informasi.

“Rata-rata yang diingat hanya di mana Syahrini. Lagi apa idolanya,” katanya.

Dia mengimbau kepada peserta yang hadir, agar hati-hati dengan kecanggihan teknologi. Oleh karena itu, KPU memandang penting dalam peraturan KPU yang memasukkan aturan baru internet menjadi media sosial pendidikan politik.

“Hampir 143 juta orang Indonesia pengguna aktif dari smartphone. Teknologi juga budaya memberikan dampak negatif, salah satunya hubungan komunikasi dengan orang tua yang terbilang minim,” jelas dia.

Potret media sosial sebagai alat politik dimulai pada  2014, puncaknya pada saat pilkada 2017. Sisi buruk pilkada DKI adalah menyeruaknya  politik indentitas.

Banyaknya politik berbau SARA menggunakan media sosial untuk memecah belah masyarakat. Gampang sekali orang dikafirkan. Di amerika muncul gerakan tutup FB, karena dianggap turut serta memecah belah masyarakat.

Sehingga Wahyu mengajak pemilih pemula ikut berpartisipasi menjadi pemilihan berdaulat. Di mana Pemilihan berdaulat menggunakan hak pilih secara bebas dan merdeka. “Pemilih yang tidak menerima politik uang,” tegasnya.

Dia melanjutkan, harus dipahami politik uang adalah cikal bakal korupsi. “Kalau Anda menerima politik uang, berarti Anda mendorong seseorang untuk korupsi,” katanya

“Sebagai bangsa yang cerdas, jangan serta merta mempercayai informasi di media sosial. Karena informasi yang disebarkan seringkali tidak benar,” tutupnya. (Ind).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here