Matanurani, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara secara bulanan (month-to-month/mtm) inflasi tercatat sebesar 0,28%.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Mei dengan inflasi sebesar 0,39% dan andil 0,12% terhadap inflasi nasional.
“komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen,” katanya pada saat konferensi pers bersama media di gedung BPS, Jakarta, Selasa (2/6).
Selain cabai merah, lanjut Pudji, minyak goreng dan bawang merah masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,04%. Kemudian disusul tomat sebesar 0,03% dan beras sebesar 0,02%.
Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi pada Mei masih didominasi oleh komoditas pangan yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
“Di luar kelompok pangan, beberapa komoditas energi dan transportasi juga ikut menyumbang inflasi. Bahan bakar rumah tangga tercatat memberikan andil sebesar 0,03%, sementara bensin dan tarif angkutan udara masing-masing menyumbang 0,02%,” paparnya kembali.
Meski demikian, Pudji menegaskan sejumlah komoditas masih mencatat penurunan harga dan menahan laju inflasi.
Daging ayam ras dan emas perhiasan menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil masing-masing 0,06%. Sementara telur ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,05%. (Aku).





































