Matanurani, Jakarta – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berada di kisaran 5,2–5,3%, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan lonjakan belanja pemerintah.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menyatakan, bahwa hanya satu komponen yang menahan laju ekonomi nasional pada awal tahun ini.
“Satu-satunya yang mengkontraksi pertumbuhan ekonomi itu adalah dari komponen net ekspor,” ujarnya dalam diskusi publik di Jakarta, Rabu (29/4).
Berdasarkan laporan Quarterly Economic Review Q1-2026, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat tumbuh 4,86% secara tahunan, meningkat dibandingkan 2,77% pada periode yang sama tahun lalu.
Optimisme konsumen juga membaik, tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang naik menjadi 115,5 dari sebelumnya 110,7 pada kuartal IV-2025.
Namun, CORE menilai kualitas konsumsi belum solid. Belanja masyarakat masih terkonsentrasi pada kebutuhan dasar, sementara konsumsi non-esensial belum pulih secara signifikan.
Dari sisi fiskal, akselerasi belanja negara menjadi pendorong utama pertumbuhan. Hingga akhir Maret 2026, belanja negara tumbuh sekitar 31% secara tahunan.
Sehingga kondisi tersebut mendorong defisit anggaran mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau sekitar 34,8% dari target tahunan sebesar Rp689,1 triliun.
Lonjakan belanja terutama berasal dari pemerintah pusat yang meningkat 47,7% secara tahunan menjadi Rp610,3 triliun. Kenaikan ini didorong oleh program strategis kementerian/lembaga, bantuan sosial, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis.
Sementara itu, transfer ke daerah dan dana desa justru tercatat Rp204,8 triliun atau terkontraksi 1,1% secara tahunan.
Di sisi eksternal, kinerja ekspor menjadi faktor penahan pertumbuhan. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) serta implementasi program B50 menyebabkan alokasi komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) lebih banyak diarahkan ke pasar domestik.
Akibatnya, ekspor sektor manufaktur dan pertambangan masing-masing terkontraksi 14,4% dan 22,8%. Pertumbuhan ekspor minyak hewani dan nabati juga melambat tajam dari 71,53% pada kuartal I-2025 menjadi 16,19% pada periode yang sama tahun ini.
Faisal menyebut, tanpa tekanan dari sektor eksternal, pertumbuhan ekonomi kuartal I sebenarnya berpotensi lebih tinggi.
“Realisasi pertumbuhan kuartal I berpotensi lebih tinggi, bahkan mencapai 5,4–5,5 persen. Namun kinerja tersebut diproyeksikan tidak akan berlanjut pada kuartal berikutnya,” katanya.
Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% terhadap PDB Indonesia, menjadikannya motor utama pertumbuhan ekonomi.
Namun, sejak periode pascapandemi, struktur konsumsi cenderung berubah dengan dominasi belanja kebutuhan dasar akibat tekanan daya beli dan inflasi.
Di sisi lain, kebijakan hilirisasi dan intervensi pemerintah seperti DMO dalam beberapa tahun terakhir memang ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan domestik dan mendukung industri dalam negeri. Namun, kebijakan ini berdampak langsung pada kinerja ekspor jangka pendek.
Kombinasi konsumsi yang kuat namun terbatas pada kebutuhan dasar serta ekspansi fiskal yang agresif menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini masih bergantung pada stimulus pemerintah.
Sementara bagi masyarakat, pertumbuhan ekonomi yang belum merata berpotensi membuat pemulihan daya beli berjalan lebih lambat, khususnya untuk sektor konsumsi non-esensial.
CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat pada kuartal II hingga IV-2026 akibat tekanan global, kenaikan harga energi, serta kebijakan efisiensi domestik. (Aku).





































