Home Internasional Bank Dunia Ramal Target Penurunan Kemiskinan Ekstrem di 2030 Tak Tercapai

Bank Dunia Ramal Target Penurunan Kemiskinan Ekstrem di 2030 Tak Tercapai

0
SHARE

Matanurani, Jakarta– Bank Dunia menyebutkan bahwa dunia tidak dapat mengakhiri kemiskinan ekstrem pada 2030 tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Bank Dunia dalam studi terbarunya menemukan, pandemi Covid-19 memberikan kemunduran terbesar terhadap upaya pengurangan kemiskinan global sejak 1990, dan adanya perang antara Rusia dan Ukraina semakin memperburuk keadaan.

Dalam Poverty and Shared Prosperity Report terbarunya memberikan pandangan komprehensif terhadap lanskap global kemiskinan setelah dihadapkan pada serangkaian guncangan yang luar biasa terhadap ekonomi global selama beberapa tahun terakhir.

“Kemajuan dalam mengurangi kemiskinan ekstrem pada dasarnya terhenti seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang lemah,” kata Presiden Grup Bank Dunia David Malpass, mengutip laman resmi Bank Dunia, Senin (10/10).

Lembaga internasional itu memperkirakan, pandemi telah mendorong sekitar 70 juta orang ke dalam kemiskinan pada 2020. Ini merupakan peningkatan terbesar sejak pemantauan kemiskinan global yang dimulai pada 1990.

Akibatnya, sebanyak 719 juta orang diperkirakan hidup dengan pengeluaran kurang dari US$2,15 per hari pada akhir 2020. David mengatakan, meningkatnya kemiskinan ekstrem dan penurunan kemakmuran bersama yang dipicu oleh inflasi, depresiasi mata uang, dan krisis tumpang tindih yang lebih luas menjadi perhatian Bank Dunia saat ini.

“Ini berarti pandangan suram bagi miliaran orang di seluruh dunia,” ujarnya.

Menurut dia, diperlukan penyesuaian kebijakan makroekonomi guna meningkatkan alokasi modal global, mendorong stabilitas mata uang, mengurangi inflasi, dan memulai kembali rata-rata pertumbuhan pendapatan.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa 2020 menandai titik balik bersejarah. Laporan itu mencatat, orang-orang termiskin menanggung biaya pandemi yang paling parah: kerugian pendapatan rata-rata 4 persen untuk 40 persen termiskin atau dua kali lipat kerugian 20 persen orang terkaya dari distribusi pendapatan. Akibatnya, ketidaksetaraan global meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Selain itu, langkah-langkah kebijakan fiskal yang kuat membuat perbedaan penting dalam mengurangi dampak Covid-19 terhadap kemiskinan. Bank Dunia mengungkapkan, tingkat kemiskinan rata-rata di negara berkembang akan menjadi 2,4 poin persentase lebih tinggi tanpa respons fiskal.

Kendati demikian, belanja pemerintah terbukti jauh lebih bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan di negara-negara terkaya, yang umumnya berhasil sepenuhnya mengimbangi dampak COVID-19 terhadap kemiskinan melalui kebijakan fiskal dan langkah-langkah dukungan darurat lainnya.

“Negara-negara berkembang memiliki sumber daya yang lebih sedikit dan oleh karena itu menghabiskan lebih sedikit dan mencapai lebih sedikit: ekonomi berpenghasilan menengah ke atas mengimbangi hanya 50 persen dari dampak kemiskinan, dan ekonomi berpenghasilan rendah dan menengah-bawah mengimbangi hampir seperempat dari dampak tersebut,” tulis laporan tersebut.

Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior Bank Dunia untuk Ekonomi Pembangunan Indermit Gill mengatakan, pemerintah perlu memusatkan sumber daya mereka untuk membangun sumber daya manusia dan memaksimalkan pertumbuhan.

“Selama dekade berikutnya, berinvestasi dalam kesehatan dan pendidikan yang lebih baik akan menjadi sangat penting bagi negara berkembang, mengingat kerugian pembelajaran yang parah dan kemunduran terkait kesehatan yang mereka derita selama pandemi,” ujarnya. (Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here