TAUFIK Hidayat kalau dilepas, mungkin udah lumat tak tersisa. Sekarang ia sedang menikmati fasilitas negara termasuk makan gratis di jeruji. Muncul pertanyaan, hadiah sayembara Rp250 juta dari Kang Dedi Mulyadi alias KDM, gimana? Apakah sudah diserahkan, atau malah buron?
Biasanya yang bikin pusing itu mencari buron. Tapi di Jawa Barat, setelah buronnya tertangkap, yang bikin pusing justru uang hadiahnya.
Inilah mungkin satu-satunya kasus dalam sejarah peradaban manusia di mana tersangkanya sudah ketemu, polisi sudah datang, mantan bos sudah muncul, korban sudah jelas, tetapi uang Rp250 juta masih mengembara di alam metafisika mencari jati diri.
Semua bermula ketika Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi mengumumkan sayembara Rp250 juta bagi siapa saja menemukan si Taufik. Publik pun langsung semangat. Sebagian mungkin mulai mengasah insting detektif. Sebagian lagi mungkin sudah membayangkan uang Rp250 juta dipakai beli rumah, mobil, atau minimal stok mi instan sampai cucu tujuh turunan.
Namun alam semesta ternyata punya selera humor sangat jahat. Taufik akhirnya tidak ditemukan oleh warga yang menyamar jadi CEO. Tidak ditemukan oleh pemburu hadiah. Tidak juga ditemukan oleh dukun yang pelihara enam jin di Kantor BGN.
Taufik malah menyerahkan diri melalui mantan atasannya, Dadang Ahyar Ismail. Nah, di sinilah otak rakyat mulai berasap.
Kalau ada lomba menangkap ikan, lalu ikannya sendiri datang ke rumah tetangga dan minta diantar ke panitia, siapa pemenangnya?
Kalau ada lomba mencari kambing hilang, lalu kambingnya pulang sendiri sambil mengetuk pintu, hadiah diberikan kepada siapa?
Kalau ada lomba mencari jodoh, lalu jodohnya datang sendiri membawa fotokopi KTP dan surat lamaran, siapa yang harus mendapat bonus? Ups, maaf, keseleo lidah.
Filsafat Yunani kuno tidak pernah membahas ini. Aristoteles menyerah. Plato menghilang. Socrates memilih logout dari diskusi.
KDM pun tampak memasuki fase kontemplasi tingkat dewa. Beliau mengatakan hadiah itu awalnya untuk warga yang menemukan Taufik. Namun ternyata polisi yang menerima penyerahan dirinya. Maka perlu dibicarakan dulu.
“Warga yang menemukan.” Kalimat itu sekarang sedang dibedah seperti naskah kuno yang ditemukan di dasar laut. Apa definisi menemukan? Apakah menemukan berarti melihat? Apakah menemukan berarti menangkap? Apakah menemukan berarti menerima? Ataukah menemukan adalah sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan makna kehidupan itu sendiri?
Sementara rakyat menunggu jawaban, uang Rp250 juta itu seperti sedang duduk sendirian di kursi plastik sambil bertanya, “Aku sebenarnya milik siapa?”
Polisi mungkin merasa punya hak karena merekalah yang akhirnya menerima dan mengamankan pelaku. Dadang punya argumen tidak kalah kuat. Kalau tidak ada dirinya, mungkin Taufik belum tentu muncul ke hadapan aparat.
Netizen tentu punya pendapat lain. Menurut mereka, hadiah sebaiknya diberikan kepada pihak yang paling banyak membuat konten dan komentar selama pencarian. Nampaknya bos Koptagul tu, ups.
Tapi plot twist terbesar justru datang dari Dadang sendiri. Ia menyatakan, kalau hadiah itu diberikan kepadanya, uang tersebut akan disumbangkan untuk membantu biaya pengobatan korban.
Ini membuat jalan cerita semakin tidak masuk akal. Hadiahnya belum jelas. Pemenangnya belum jelas. Uangnya belum cair. Penerimanya sudah siap menyumbangkan semuanya. Ini seperti memenangkan lotre sebelum membeli kupon.
Kini publik mulai menuntut kejelasan. Bukan karena iri pada Rp250 juta. Tetapi karena bangsa ini sudah terlanjur penasaran. Buronnya sudah ketangkap. Kasusnya sudah terang. Yang gelap justru nasib uangnya.
Taufik sudah ditemukan. Polisi sudah bekerja. Dadang sudah ikhlas. Korban masih menunggu bantuan. Sementara Rp250 juta masih berkeliaran di antara dimensi hukum, etika, logika, dan komedi, menunggu seseorang berani menjawab pertanyaan terbesar abad ini, “Sebenarnya, siapa yang menemukan siapa?”
Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar





































