Jakarta – Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) menilai daerah-daerah potensial produksi daging sapi/ kerbau perlu dioptimalisasi untuk kebutuhan industri daging sapi nasional.
“Industrialisasi daging sapi perlu dioptimalisasi dan dimaksimalkan pada potensi sumber daya dalam negeri yang bernilai tambah untuk kedejahteraan para peternak rakyat,” kata Benny Pasaribu, Ketua Pokja Pangan KEIN, dalam pengantarnya pada Fokus Group Diskusi (FGD) KEIN bersama para stakeholder persapian di Jakarta, Rabu (15/11).

Menurut Benny, Indonesia memiliki lahan yang luas, terutama di daerah-daerah potensial yang belum banyak dikembangkan dalam peternakan sapi.
Dengan memanfaatkan lahan dan sumberdaya hayati di daerah tersebut dengan pola industrialisasi maka dapat memberdayakan ekonomi rakyat khususnya di pedesaan dan daerah tertinggal.
Sementara Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (GAPUSPINDO), Djoni Liano menuturkan database yang ada saat ini masih bersifat sektoral. Selama ini yang menjadi perhitungan adalah kebutuhan daging yang dihitung secara nasional bukan berdasarkan kebutuhan di tiap daerah.
Di samping itu, menurut Djoni, swasta memerlukan dukungan dan insentif dari pemerintah terutama terkait dengan penyediaan lahan untuk meningkatkan skala usaha. “Karena jika hal ini terus diabaikan, maka pemenuhan daging sapi selalu saja diselesaikan dengan cara importasi dari luar,” tukas Djoni.
Untuk mencukupi kebutuhan daging sapi nasional, Kasubdit Industri Pengolahan Hasil Laut Perikanan, dan Peternakan, Kementerian Perindustrian, Wahyuni Riyanti mengatakan saat ini pemerintah telah mengembangkan dan melaksanakan konsep Sentra Peternakan Rakyat (SPR).
“Kebutuhan daging, terutama daging sapi untuk tahun 2016 ini sekitar 674,690 ton dimana sekitar 20 persennya masih diimpor. Diharapkan program SPR akan memenuhi tujuan produksi daging sapi, daya saing, serta kesejahteraan para peternak daging sapi,” kata Wahyuni.
Ia juga menyayangkan usaha pembibitan yang menjadi basis industri sapi potong ternyata tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Secara ekonomi, kata dia, usaha pembibitan serta pembesaran bakalan sapi potong belum mampu menawarkan insentif pada peternak atau pelaku usaha lainnya dibandingkan dengan usaha penggemukan.
“Karakteristik pembibitan dan pembesaran yang memiliki siklus produksi yang relatif panjang menyebabkan pengembalian (turnover) usaha ternak menjadi relatif rendah,” tukasnya. (Smn).





































