Matanurani, Jakarta – Minyak atsiri merupakan komoditas ekspor Indonesia yang potensial untuk dikembangkan, dan di Indonesia ada terdapat 40 jenis yang diperdagangkan di dunia, serta 12 jenis yang telah diekspor ke pasar. Namun begitu, tantangan indusri minyak atsiri masih terhadang pada rantai nilai produksi dan mekanisme pasarnya.
“Karenanya, sistem pemasaran minyak atsiri itu harus dibangun karena kurang efisien sebab cenderung kekurangan stok karena
pemainnya IKM yang berbahan baku alam,” kata Robertus J Gunawan, Ketua Umum Dewan Atsiri Indonesia (DAI), dalam Fokus Group Diskusi (FGD) Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) di Jakarta, Rabu (15/11).
Robby panggilan akrab Robertus mengatakan untuk mengatasi hal tersebut perlu industrialisasi untuk mendorong peningkatan produksi minyak atsiri dari sektor hulu dan hilir dengan sistem klaster dan kawasan.
“Pengembangan industri atsiri sendiri tertuang dalam program cultiva. Dimana porgram ini merupakan upaya untuk mengintegrasikan seluruh pelaku industri minyak atsiri dalam rantai nilai produksi dalam mekanisme pasar minyak atsiri,” kata Robby.
Menurut Robby, saat ini Departemen Perindustrian dan Dewan Atsiri Indonesia telah memiliki 5 wilayah kluster industri minyak atsiri (minyak aroma). Diantaranya Pakpak Bharat, Aceh Selatan, Pasaman Barat, Kuningan dan Blitar khusus untuk komoditi nilam.
Selain mengembangkan struktur industri yang baik, menurut Robby perlu juga mempertimbangkan penerapan Harga Pokok Penjualan produk atsiri untuk menjamin kepastian harga dan stabilitas harga produk atsiri.
Sedangkan dari sisi kualitas, produk minyak atsiri akan disusun dengan standar nasional Indonesia (SNI) terkait warna produk, kejernihan, kekentalan, berat jenis, kadar alkohol, aroma, zat tambahan diluar dari bahan-bahan alami.
“Selama ini ekspor produk minyak atsiri Indonesia masih dalam bentuk setengah jadi. Pada tahun 2017 nilai ekspor minyak atsiri kasar sebesar US$ 100 juta sedangkan untuk produk turunannya mencapai mencapai US$ 286,4 juta untuk produk parfum, kosmetik, toiletries. Untuk ekspor produk turunan atsiri, Indonesia cukup tinggi mencapai US$ 435,5 juta,” kata Robby. (Smn)





































