Matanurani, Jakarta – Hantaman tsunami Anyer pada Sabtu 22 Desember malam, membuat kawasan Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten, luluh lantak.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut korban tsunami yang terjadi di area Selat Sunda itu terus bertambah. Saat ini, jumlah korban telah mencapai 62 orang yang meninggal dunia.
“Data dampak tsunami sampai Minggu (23/12) pukul 10.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia ada 62 orang,” kata Sutopo dalam keterangannya, Minggu (23/12).
Selain itu, ada 584 orang mengalami luka-luka, 20 orang dinyatakan hilang. Sutopo menjelaskan, ada 430 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, dan 10 kapal rusak berat.
“Data ini akan terus bergerak naik, artinya data korban jiwa akan bertambah mengingat belum semua wilayah dapat didata,” imbuh dia.
Kabar tsunami yang mengejutkan itupun disiarkan secara luas oleh banyak media internasional sejak Minggu dini hari.
Situs berita asal Australia, News.com.au, memberitakan secara bertahap sejak pukul 03.08 dini hari waktu setempat (sekitar 23.08 WIB) tentang kabar tsunami Selat Sunda.
Outlet media tersebut juga terus mengabarkan tentang korban tewas yang terus bertambah, mulai dari 20 orang pada pemberitaan kedua, berlanjut menjadi 37 pada pemberitaan kelima, dan yang terakhir kali diwartakan pada Minggu pagi, yakni sebanyak 43 orang tewas.
Kabar mengenai jumlah korban tsunami Selat Sunda juga turut diberitakan bertahap oleh situs Globalnews.ca asal Kanada, CNN.com dari Amerika Serikat (AS), The Guardian dari Inggris, dan kantor berita resmi pemerintah China, Xinhua.
Sementara itu, situs berita Forbes.com mengabarkan dengan runut tentang peristiwa tsunami Selat Sunda, yang menurut laporan sementara dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemungkinan disebabkan oleh longsoran Gunung Anak Krakatau.
Tidak ketinggalan, sejarah tentang serangkaian tsunami yang pernah melanda area Selat Sunda juga ikut diwartakan dalam laporan mendalam situs Forbes, termasuk bencana letusan dahsyat Krakatu pada Agustus 1883.(Mer).




































