Home Internasional KTT D-8 Digelar di Jakarta, Bisakah Pemerintah Jadikan Kekuatan Besar Ekonomi yang...

KTT D-8 Digelar di Jakarta, Bisakah Pemerintah Jadikan Kekuatan Besar Ekonomi yang Konkret

0
SHARE

Kantor menteri Luar Negeri republik Indonesia KONTAN (26/1/2015). / Achmad Fauzie

 

Matanurani, Jakarta – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyebut pemerintah tengah mematangkan persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing Eight (D-8) yang rencananya digelar di Jakarta. Menurutnya, fokus utama persiapan diarahkan pada penyusunan substansi agar pertemuan menghasilkan kesepakatan yang konkret dan dapat diimplementasikan.

“Kami sedang menyusun substansinya. Intinya adalah bagaimana menjadikan KTT kali ini sebagai satu yang sifatnya konkret, kemudian ada hasil-hasil yang nyata,” kata Sugiono, Rabu (4/2).

Sugiono menjelaskan salah satu hasil konkret yang ingin dicapai Indonesia adalah penguatan kerja sama ekonomi antarnegara anggota. Ia menyebut kolaborasi ini berpotensi memperbesar kekuatan ekonomi bersama.

“Kalau kemarin kami ingin hasil konkret dan nyata itu terwujud dalam satu kerja sama ekonomi yang lebih kuat. Karena masing-masing negara anggota ini punya kekuatan ekonomi masing-masing. Dan kalau misalnya dipadukan itu justru merupakan satu kekuatan yang besar,” ujarnya.

“Jadi secara garis besar itu yang ingin kita dapatkan. Dan ini sedang dibicarakan substansi-substansi yang sifatnya lebih detail,” tutur Sugiono menambahkan.

Selain substansi, pihaknya juga menyiapkan aspek teknis penyelenggaraan seperti lokasi KTT. Sugiono memastikan Jakarta akan menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin negara anggota D-8.

“Venue-nya nanti rencananya di Jakarta. Kita cari tempat yang representatif,” ucapnya.

Diketahui, Indonesia menjadi Ketua Developing-8 (D-8) Organization for Economic Cooperation mulai 1 Januari 2026, untuk periode 2026–2027. Serah terima resmi keketuaan akan dilakukan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-12, yang akan diselenggarakan di Jakarta pada April 2026.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri, Tri Tharyat, dalam kegiatan Ngobrol Asik (Ngobras) edisi ke-3 bertema “Keketuaan Indonesia di D-8: Menguatkan Solidaritas dan Kerja Sama di Global South” yang diselenggarakan di Kantin Diplomasi Kemlu, Jumat (19/12).

Tri menegaskan keketuaan Indonesia di D-8 merupakan momentum strategis untuk memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia, memperkokoh solidaritas negara-negara Global South, serta meningkatkan daya tawar kolektif negara berkembang dalam menghadapi dinamika geopolitik dan tantangan multilateralisme.

“D-8 adalah forum ekonomi strategis Global South. Di tengah dinamika geopolitik dan tantangan multilateralisme, keketuaan Indonesia di D-8 akan menjadi sarana penting untuk memperkuat kesetaraan, solidaritas, dan kerja sama ekonomi yang konkret,” kata Tri.

D-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi negara-negara berkembang yang terdiri dari Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan dan Türki. Organisasi ini mewakili sekitar 1,3 miliar penduduk dunia, memiliki total Produk Domestik Bruto kolektif sekitar USD 5,1 triliun, serta mencatat perdagangan intra-D-8 sebesar kurang lebih USD 157 miliar.

Dengan komposisi geografis yang luas mencakup Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika, D-8 menempati posisi yang semakin strategis sebagai blok ekonomi penyeimbang dan motor penggerak kerja sama ekonomi Selatan–Selatan. Tri juga menambahkan kajian internasional memproyeksikan negara-negara anggota D-8 akan menjadi kekuatan ekonomi utama dunia pada tahun 2050. Hal ini menjadikan D-8 sebagai salah satu investasi politik dan hubungan luar negeri.(Ini).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here