Home News Kepuasan Terhadap Jokowi Menurun, KSP: Karena Kenaikan Harga Bahan Pokok

Kepuasan Terhadap Jokowi Menurun, KSP: Karena Kenaikan Harga Bahan Pokok

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Kantor Staf Presiden atau KSP menyebut turunnya angka kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo atau Jokowi hingga 6 persen, karena diakibatkan naiknya harga bahan pokok. Menurunnya angka kepuasan itu merujuk pada hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada Ahad, 15 Mei 2022.

“Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, tidak terlepas dari dampak ketidakpastian global, baik yang dipicu pandemi Covid-19, konflik Rusia-Ukraina, berbagai kebijakan di negara maju, maupun faktor cuaca,” ujar Tenaga Ahli Utama KSP, Edy Priyono, dalam keterangan, Selasa, (17/5).

Edy menerangkan, seluruh konflik dan dinamika itu membuat harga berbagai komoditas naik tak cuma di Indonesia, melainkan juga di pasar global. Kenaikan itu termasuk pada komoditas bahan pangan dan energi yang kemudian memicu kenaikan harga di dalam negeri.

“Jika kondisi ini terus berkelanjutan bisa menyebabkan terjadinya peningkatan inflasi, penurunan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, serta memberi tekanan fiskal,” kata Eddy.

Eddy menjelaskan, saat ini pemerintah terus berupaya mengendalikan kenaikan harga tersebut. Salah satunya, menurut dia, dengan mengalokasikan APBN untuk menyediakan dukungan bantalan sosial bagi masyarakat, khususnya kelompok tidak mampu.

“Selain itu, pengurangan jumlah uang beredar di negara maju juga bisa menekan pasar keuangan melalui pelemahan rupiah, dan berisiko pada meningkatnya tingkat bunga,” ujar dia.

Meski begitu, Edy mengatakan perekonomian Indonesia mampu melanjutkan tren perbaikan yang konsisten. Ia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Triwulan I 2022 menyatakan perekonomian Indonesia tumbuh kuat sebesar 5,01 persen (year to year).

Pertumbuhan perekonomian itu, menurut Edy, ditopang oleh peningkatan permintaan domestik, tetap terjaganya kinerja ekspor, dan bergairahnya aktivitas ekonomi seputar Lebaran.

“Perputaran ekonomi pada Idul Fitri juga ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan di Triwulan I,” kata dia.

Edy mengatakan, meski terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, namun dari sisi permintaan atau demand, konsumsi rumah tangga justru tumbuh sebesar 4,34 persen (year to year) atau jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada triwulan IV 2021 sebesar 3,55 persen (year to year).

Ia menduga pertumbuhan konsumsi rumah tangga itu didukung oleh kebijakan pelonggaran mobilitas, seiring dengan pandemi yang terkendali dan berlanjutnya akselerasi vaksinasi. Ia juga mengklaim percepatan penyaluran perlindungan sosial oleh pemerintah juga memberikan dorongan bagi penguatan daya beli masyarakat.

Akan tetapi, lanjut Edy, penguatan konsumsi rumah tangga di sisi lain juga turut berkontribusi pada meningkatnya inflasi pada April 2022, sebesar 0,95 persen (month to month) atau 3,47 persen (year to year).

“Tingginya inflasi tersebut juga bertepatan dengan momen Ramadhan 2022 yang secara siklus memang terjadi peningkatan permintaan,” kata dia.

Meski begitu, Edy optimistis prospek perekonomian Indonesia ke depan tetap kuat karena pemerintah terus melakukan akselerasi dan perluasan vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang semakin luas, serta memberikan berbagai stimulus berupa bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat. (Tem).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here