Home News Holding BUMN Pangan Terbentuk, Ini Efek Positifnya

Holding BUMN Pangan Terbentuk, Ini Efek Positifnya

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) resmi melakukan holding BUMN klaster pangan. Ada enam perusahaan yang tergabung dalam BUMN Klaster Pangan resmi menjadi 3 perusahaan.

PT Bhanda Ghara Reksa resmi melebur ke PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Perikanan Nusantara bergabung ke PT Perikanan Indonesia, dan PT Pertani ikut ke PT Sang Hyang Seri.

“Targetnya memperbesar peran mereka dalam sektor mereka, misal beras dalam pangsa pasar PT Sang Hyang Seri hanya 1%. Kita harap bisa ditingkatkan antara 7%-8% dalam 5 tahun mendatang, ini pasar sangat besar,” kata Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Pahala Mansury,  Kamis (9/12)..

Di bidang benih, PT Sang Hyang Seri juga memproduksi dan mendistribusikan ke seluruh Indonesia, sama dengan PT Pertani yang juga mendistribusikan dengan pupuk dimana PT SHS punya pangsa pasar kurleb 7%.

“Kita berharap 5 tahun mendatang mendekati 30%-40%. Ini bukan hal mudah, kerja keras dalam meningkatkan jalur distribusi yang ada,” sebut Pahala,

Perusahaan holding pangan diproyeksikan akan bekerjasama dalam pengoperasian aset distribusi logistik yang ada masing-masing. Dengan menggabungkan jadi satu holding, pengoperasian pelaksanaan distribusi logistik yang merupakan faktor menentukan perusahaan pangan akan jadi lebih efisien sehingga akan meningkatkan optimalisasi terasuk pergudangan.

“Di sektor perikanan harapannya meningkatkan distribusi Perindo Perinus mendekati 5% baik domestik Indonesia maupun ekspor,” ujarnya.

Dampak akhirnya tentu bisa meningkatkan kinerja keuangan masing-masing perusahaan. Apalagi saat ini pun penjualan keseluruhan bumn pangan belum optimal dimana sampe akhir tahun berkisar Rp 12-13 triliun.

“Kita harap lima tahun ke depan dengan konsolidasi aset-aset, sinergi lebih baik dan refocusing yang dilakukan, BUMN di klaster pangan dan juga partner bermitra dan atau pihak lainnya kita harap penjualan peningkatan signifikan dari Rp 13 triliun jadi Rp 25 triliun di 2025,” ungkap Pahala. (Cnb).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here