
Seorang peserta pameran merapikan susunan berbagai varietas buah lokal asli Indonesia yang dipamerkan pada acara Fruit Indonesia 2016 di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/11). Presiden Joko Widodo dalam sambutan pembukannya meminta agar pengelolaan produksi buah-buahan lokal asli Indonesia dapat ditingkatkan sehingga mampu bersaing dan berjaya di pasar global. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/aww/16.
Matanurani, Jakarta – Festival Panen Raya Nusantara (Parara) 2017 akan mengembangkan pangan lokal. Ada beberapa jenis pangan lokal seperti sorgum dari Kalimantan yang belum tergarap.
Jusupta Tarigan, Ketua Konsorsium Parara menuturkan ketahanan dan kedaulatan pangan menjadi salah satu pesan dalam festival Parara. Jusupta bilang Indonesia merupakan negara agraris dan maritim.
Namun, kebutuhan pangan masih banyak yang bergantung pada impor.
Harga pangan pun sering kali berubah-ubah sulit dikendalikan. Kurangnya bahan pangan di Indonesia dianggap disebabkan oleh penggunaan lahan oleh pihak industri.
Penggunaan lahan dinilai terkadang mengeksplor lahannya secara berlebihan. Parara mengajak untuk mengedepankan ruang bagi petani dan nelayan. Praktik ekonomi yang ramah lingkungan pun diharapkan dapat menjaga kelestarian alam.
Berdasarkan hak itu pada festival Parara yang akan diselenggarakan pada 13 hingga 15 Oktober 2017, Parara mengusung tema Jaga Tradisi, Rawat Bumi. Parara melihat bahwa kearifan leluhur telah memanfaatkan alam serta menjaga tetap lestari.
Namun, saat ini penggunaan lahan adat dinilai mengesampingkan hal tersebut. Penggunaan hutan adat dinilai menyingkirkan masyarakat adat yang menjaga alam.
Pada festival Parara akan terdapat berbagai macam acara. Beberapa acara di antaranya adalah seminar, pemutaran film, pameran kerajinan tradisional, dongeng, serta mencicipi hidangan pangan nusantara. (Ktn).




































