Matanurani, Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) akhirnya menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade. Sebelumnya posisi sovereign credit rating Indonesia adalah BB+ yang kemudian dinaikkan menjadi BBB-/A-3 dengan outlook stabil.
Mengutip keterangan laman resmi S&P, perbaikan posisi Indonesia dilatarbelakangi oleh menurunnya risiko-risiko fiskal Indonesia. Sedangkan langkah pemerintah yang terukur dalam menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menstabilkan keuangan negara juga dipandang positif.
“Sebagai hasilnya, kami mengekspektasikan utang pemerintah akan stabil dan defisit anggaran akan turun secara gradual,” kata S&P dalam rilisnya yang diterima di Jakarta, Jumat (19/5).
Menurut S&P, outlook Indonesia dalam jangka panjang masih dalam kategori stabil. Pasalnya, sejumlah kenaikan maupun penurunan risiko (upside and downside risks) terhadap rating yang diberikan cenderung seimbang.
Selain itu, S&P juga menyatakan keyakinannya terhadap fokus pemerintah untuk membuat APBN lebih realistis bakal memberikan dampak positif. Selain itu, upaya pemerintah untuk membuat APBN lebih realistis juga akan menurunkan risiko pelebaran defisit anggaran.
S&P kini mengantisipasi bahwa utang net akan berada pada level moderat, yakni di bawah 30 persen dari produk domestik bruto (PDB). Adapun tantangan lain adalah perolehan pendapatan dari perpajakan.
Ditempat terpisah, ekonom, Dr Benny Pasaribu mengakui bahwa saat ini sudah ada 3 lembaga pemeringkat internasional yang telah melakukan assesmen dan menyatakan peringkat Indonesia meningkat menjadi Investment Grade.
Awalnya, lanjut Benny hanya lembaga pemeringkat internasional dari Fitch dan Moody’s tapi ternyata sekarang S&P juga sudah ikut andil menetapkan rating Investment Grade untuk Indonesia.
“Hal ini membuktikan bahwa pihak asing semakin percaya terhadap keberhasilan Presiden Jokowi dalam menjaga iklim investasi dan stabilitas makroekonomi selama 2,5 ahun terakhir,” kata Benny.
Dengan demikian, saran Benny peringkat investment Grade harus mampu dikapitalisasi oleh bangsa Indonesia dengan mendorong investasi melalui kemudahan dan keamanan berbisnis. Karenanya investasi baru harus di dorong masuk ke dalam kawasan industri di luar Jawa, seperti pembangunan infrastruktur industri dan pembangkit listrik.
Tentunya menurut Benny peluang seperti ini sangat mahal dan momentumnya tepat untuk menaikkan target pertumbuhan ekonomi mendekati 6% serta mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
“Hal ini membutuhkan semangat kerja ekstra besar dan pengambilan kebijakan yang out of the box. Itulah pekerjaan rumah bagi kita semua agar Indonesia bisa berhasil menjadi negara industri terbesar ke 4 dunia pada tahun 2045, ketika kita memasuki usia 100 tahun Indonesia merdeka, pungkas Benny, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), yang merupakan lembaga think tank Presiden Jokowi.(Simon).




































