Matanurani, Jakarta – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) baru berduka. Di penghujung tahun 2017 salah seorang putra terbaiknya di organisasi petani itu yakni Drs H Rusfian MM, ketua harian Bidang Organisasi dan Kelembagaan HKTI meninggal dunia di Jakarta Kamis, 28 Desember 2017 kemarin, dalam usia 58 tahun.
Sekretaris Dewan Pertimbangan HKTI, Benny Pasaribu mengungkapkan bela sungkawa kepada keluarga Rusfian. Benny mengatakan Rusfian adalah sang pejuang petani yang konsisten membela petani di Indonesia.

“Almarhun Rusfian sangat lama berkecimpung dalam organisasi HKTI. Dedikasi dan kecintaannya pada petani dan dunia pertanian sangat melekat hingga akhir hayatnya,” kata Benny saat pemakaman almarhum Rusfian di Pemakaman Umum Penggilingan, Rawamangun, Jakarta Timur.
Rekan-rekannya di organisasi pun mengganggapnya sebagai sejawat yang bersemangat, bersahabat, dan ceria. Bagi kaum muda ia adalah sosok teladan yang penampilannya sederhana, pandai bergaul, dan baik hati. Bahkan tak sedikit yang menganggapnya sebagai ayah.
Rusfian menjalani aktivitas organisasi dengan penuh tanggung jawab, enerjik, dan total. Oleh karena itu almarhum merupakan salah satu pengurus yang paling sering bepergian ke berbagai daerah di Tanah Air, termasuk luar negeri, mengemban tugas HKTI. Teman-teman di HKTI kerap mengingatkannya agar tidak terlalu memporsir diri dan banyak istirahat, apalagi ketika pada waktu-waktu belakangan ini kondisi kesehatannya kurang baik.
Ketika meninggalnya pun, almarhum tengah dalam perjalanan menuju ke Palembang bersama rombongan Ketua Umum HKTI, Jenderal (Purn) Moeldoko, menghadiri Musyawarah Provinsi HKTI Sumatera Selatan. Ketika rombongan hendak boardingdi Lanud Halim Perdanakusma, Jakarta, Rusfian mendadak pingsan. Setelah mendapat perawatan setempat dan sempat siuman, Rusfian kemudian dibawa ke RS AURI Halim.
Namun tak lama kemudian rupanya Tuhan telah menentukan takdirnya dan memanggilnya kembali ke haribaanNya. Innalillahi wainnailaihi rojiun.
Selamat jalan ayah, sahabat, teladan, dan pejuang petani Indonesia. Sang pejuang petani Indonesia itu kini telah tiada. Namun karya dan karsa mu tetap terukir disanubari para petani Indonesia. (Smn).





































