Matanurani, Bandung – Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro membeberkan hasil rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.
Dalam rapat tersebut, Jokowi menekankan beberapa hal. Pertama, meminta Kemenristek melakukan koordinasi untuk mencegah duplikasi riset.
“Kedua, mendorong hilirasasi riset. Riset terarah dan memberikan solusi bagi permasalahan bangsa,” ujar Bambang di Bandung, Kamis (12/12).
Ia mencontohkan, alat untuk mengukur pembuluh darah untuk mendeteksi dini penyakit kardiovaskular.
Riset ini bersumber dari ilmu dasar gelombang fisika dan ilmu lainnya. Kemudian, riset dikembangkan dan diminati industri untuk membantu pengecekan kardiovaskular.
Contoh lainnya, upaya penyulingan udara dan air yang tadinya kotor menjadi bersih melalui pendekatan ilmu dasar membran.
“Selama ini, udara tidak bersih menjadi bersih. Ini riset yang berujung pada inovasi,” ungkapnya.
Untuk mencegah duplikasi riset, pihaknya memiliki agenda prioritas riset nasional. Dalam lima tahun ke depan, pihaknya fokus terhadap 9 bidang dengan 49 produk.
Hal ini nantinya diturunkan dalam kebutuhan riset yang bisa dilakukan berbagai lembaga riset. Baik itu kementerian, perguruan tinggi, BPPT, LIPI, Batan, swasta, ataupun masyarakat.
“Penelitian dilakukan terintegrasi. Untuk kampus bisa dilakukan sinergi antar jurusan,” ungkapnya.
Misalnya, Batan bisa menciptakan padi unggul dengan pendekatan nuklir. Penelitian ini tentu berbeda dengan yang dilakukan Balitbang Pertanian.(Kps).




































