Oleh : Vonita Betalia
IRENE Sokoy adalah satu dari sekian banyak ibu yang menanti kelahiran buah hati dengan penuh harap. Sembilan bulan lebih ia memeluk mimpi yang sama seperti ibu lainnya, memperlihatkan dunia pada bayi yang dikandungnya.
Namun perjalanan menuju ruang bersalin pada 16 November itu berubah menjadi rute panjang yang tak pernah membawanya kembali pulang.
Hari itu, Irene tiba di Rumah Sakit Yowari dengan kondisi kontraksi yang semakin kuat. Ia berharap bisa melahirkan normal, seperti persalinan sebelumnya.
Namun kali ini prosesnya berjalan sangat lambat. Lima jam berlalu tanpa perkembangan pembukaan yang memadai. Bobot bayi yang lebih besar membuat situasi makin berisiko.
Irene tiba di Rumah Sakit Yowari pada 16 November dengan perut yang semakin menegang serta rasa sakit yang terpaksa di tahan dengan niat melahirkan. Rumah sakit di mana tempat dirinya memantau perkembangan cabang bayi seketika berubah menjadi awal perjalanan panjang yang menyesakkan.
Dengan niat melahirkan normal seperti persalinan sebelumnya, namun harapan tersebut runtuh seiring dengan bobot bayi lebih besar dan proses persalinan berlangsung sangat lambat. Lima jam berlalu, tetapi pembukaan tidak juga mencapai tahap yang memungkinkan bayi keluar dengan aman.
“Kebetulan dokternya, Obgyn-nya enggak ada saat itu, sedang ada di Sulawesi dalam hal mengikuti seminar,” kata Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, Yuli Astuti Saripawan, yang menceritakan kronologi kejadian mencekam.
Dokter spesialis kandungan satu-satunya sedang cuti. Tanpa kehadirannya, tidak ada pilihan selain merujuk.
Irene maupun keluarga yang ikut mengantarkannya pun kembali harus menahan napas selama perjalanan menuju rumah sakit rujukan pertama, RS Dian Harapan. Di sana, Irene bahkan tidak sempat turun dari mobil.
Ia terpaksa melanjutkan perjalanan panjang akibat tidak adanya dokter anestesi, pembiusan (anestesi) sebelum, selama, dan sesudah operasi, memantau kondisi vital pasien selama prosedur, mengelola nyeri pascabedah, serta menangani perawatan intensif.
Alasan kuat pihak rumah sakit mesti menolak kehadiran Irene dan calon bayinya ini karena ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit), ruang perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang seharusnya siap untuk kondisi risiko tinggi justru penuh. Tak ada ruang untuk menyelamatkan bayi Irene. Mobil kembali ditutup rapat, sirenenya kembali meraung.
“Kemudian pasien (Irene) dirujuk lagi mencari inisiatif untuk dirujuk ke Rumah Sakit Abepura,” ujar Yuli.
Harapan berikutnya adalah Rumah Sakit Abepura. Keluarga dan petugas membawa Irene masuk, berharap setidaknya ada ruang operasi. Tetapi di rumah sakit yang cukup besar itu, kenyataan lain menanti.
“Empat ruang operasi yang dipunya itu sedang direnovasi semua dan dikerjakan dalam waktu bersamaan,” ungkap Yuli.
Tidak ada satu pun ruang yang bisa digunakan untuk operasi sesar mendesak. Irene hanya bisa terbaring sambil menahan nyeri yang semakin tajam dan detak jantung yang mulai melemah.
Pilihan berikutnya adalah Rumah Sakit Bhayangkara. Di sana, setidaknya masih ada dokter Obgyn dan dokter anestesi. Ketika Irene tiba, petugas mengonfirmasi keduanya tersedia. Namun persoalan lain muncul. Ruang perawatan kelas 3, satu-satunya yang terjangkau BPJS tanpa tambahan biaya, sudah penuh. Keluarga ditawari ruang VIP.
“Keluarga diminta memilih kelas VIP dengan biaya Rp3–4 juta,” kata Yuli.
Di tengah kepanikan dan kondisi gawat darurat, angka itu mustahil bagi keluarga Irene. Mereka meminta waktu, meminta alternatif, meminta keadilan yang semestinya diberikan kepada pasien gawat darurat. Tetapi waktu berjalan lebih cepat dari harapan mereka.
Mobil kembali membawa Irene menuju rumah sakit lain. Perjalanan itu menjadi perjalanan yang paling kritis. Nyeri yang sejak pagi ditahannya mencapai puncak. Tubuhnya mulai kaku.
“Di perjalanan pasien terjadi kejang,” tutur Yuli.
Keluarga Irene yang sebelumnya ingin kembali melanjutkan perjalanan mencari rumah sakit untuk menyambut kedatangan anggota baru mereka harus berputar. Mereka berjalan kembali menuju Rumah Sakit Bhayangkara.
Ketika tiba, Irene langsung dibawa ke ruang tindakan. Resusitasi dilakukan dengan cepat. Upaya demi upaya digerakkan. Tetapi semuanya terlambat. Irene tidak terselamatkan. Bayi dalam kandungannya pun tidak sempat melihat dunia.
Kematian Irene mengejutkan publik dan mengguncang perhatian nasional. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, menegaskan bahwa tragedi ini bukan sekadar kesalahan individu. Ada kegagalan sistemik yang mengakar.
Mulai dari kelangkaan dokter spesialis, pemeliharaan sarana dan prasarana layanan kesehatan yang tidak maksimal, standar operasional prosedur tidak dilaksanakan, serta buruknya sistem rujukan.
“Itu adalah empat hal dan tentu saja nanti kita akan coba fokus untuk menangani agar kejadian ini tidak terjadi lagi termasuk dalam pemenuhan dokter dan sebagainya,” sesal Azhar.
Pemerintah Sesalkan Insiden Irene
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ikut menyampaikan duka. Mewakili pemerintah maupun pribadi, ia menyesalkan peristiwa ini terjadi ketika pihaknya tengah berupaya menekan kasus kematian ibu dan bayi dalam kandungan.
“Ini kejadian yang harusnya tidak terjadi dan sangat memprihatinkan, karena justru Kemenkes ingin menghapuskan kematian ibu dan bayi,” katanya.
Menurut data United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation tahun 2022 Indonesia menduduki peringkat ke-48 di antara seluruh negara dengan 18 kematian per 1.000 kelahiran hidup (KH).
Indonesia menduduki urutan ke-6 dengan kasus kematian bayi paling tinggi di ASEAN dengan 18 kematian per 1000 KH pada tahun 2022. Angka ini terbilang tinggi dibandingkan negara Malaysia yang memiliki tingkat kematian bayi sebesar 7 per 1000 KH dan Singapore 2 per 1000 KH.
Dari seluruh negara ASEAN, Timor Leste berada pada tingkat kematian bayi paling tinggi, yaitu 42 kematian per 1.000 KH, dan disusul oleh Laos dengan kematian bayi sebesar 33 per 1000 KH.
Pada laporan data SDKI 2017 menunjukkan tren penurunan angka kematian bayi di Indonesia yang sebelumnya 32 menjadi 24 per 1.000 KH di antara tahun 2012 dan 2017. Pada tahun 2020 kematian bayi mengalami penurunan lagi menjadi 16,85 bayi dari 1000 kelahiran hidup.
Provinsi Papua, tempat Irene tinggal, memiliki angka kematian bayi paling tinggi di Indonesia, yaitu 38,17 kematian bayi dari 1.000 KH. Sebaliknya, DKI Jakarta memiliki angka kematian bayi terendah, hanya 10,38 bayi per 1.000 kelahiran.
Minim Dokter Spesialis
Budi menekankan minimnya dokter spesialis di Papua adalah masalah kronis. Ia mengatakan pemerintah tengah mempercepat pemerataan dokter spesialis melalui pendidikan berbasis rumah sakit, pemenuhan dokter putra daerah, hingga penyiapan ratusan rumah sakit pendidikan.
Di sisi lain, Budi mengungkapkan fenomena yang jarang dibicarakan tetapi umum terjadi. Di mana, menjelang hari raya besar tidak sedikit dokter yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Meskipun tak bisa dipungkiri, keluarga lain yang membutuhkan pertolongan juga ingin berkumpul bersama di hari besar.
Tanpa dokter yang menetap, layanan kesehatan di Papua menjadi sangat rentan. Banyak dokter bukan pegawai tetap, sehingga kehadiran mereka tidak berkelanjutan. Situasi bertambah sulit ketika peralatan tidak siap, administrasi tidak fleksibel, dan ruang operasi justru tidak tersedia pada saat paling dibutuhkan.
Kementerian Kesehatan langsung memastikan akan ada evaluasi dan kemungkinan sanksi bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang diduga lalai. Pencabutan izin rumah sakit dapat terjadi apabila terbukti ada pelanggaran berat.
“Karena di Undang-Undang Kesehatan yang baru, sanksinya jelas itu bagi pimpinan rumah sakit yang tidak melayani pasien di masa kegawatdaruratan. Karena itu harus dilayani. Dan BPJS pun pasti akan membayar. Jadi tidak ada alasan bahwa itu tidak terlayani,” tegas Budi.
Tragedi Irene Sokoy potret senyap dari ketimpangan layanan kesehatan di Papua yang tidak merata, kekurangan tenaga medis, sarana yang tidak siap, dan rujukan yang tidak berpihak pada kecepatan penyelamatan nyawa.
Pemerintah menjanjikan perubahan, tetapi bagi keluarga Irene, perubahan itu datang terlalu lambat. Ia pergi bersama bayinya, meninggalkan pertanyaan yang seharusnya menggemakan langkah perbaikan, berapa banyak lagi ibu yang harus kehilangan nyawanya sebelum sistem benar-benar bekerja?





































