Home Opini Islam Agama Rahmat

Islam Agama Rahmat

0
SHARE
Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc

Oleh : Prof. Dr. Ir Asep Saefuddin, MSc,

Satu wejangan paling meresap dari pelajaran sejak SD adalah Islam agama rahmat. Saya sangat meyakini bahwa kehadiran Islam adalah untuk kerahmatan, kebaikan, dan keberkahan bagi seluruh alam, bukan saja manusia. Kalimat itu pun lengkapnya adalah Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Berarti sudah seharusnya para ummat Muslim selalu menekankan makna rahmat itu.

Nabi Muhammad SAW bahkan sempat menerangkan bahwa

“tidak semata-mata aku diutus ke muka bumi ini, tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak”.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perkataan-perkataan Nabi atau hadits itu bersifat universal yang tidak lekang dengan waktu. Bahwa penyempurnaan akhlak itu bukan berlaku saat Nabi saja, tetapi juga sekarang ini. Dus, tugas ummat Islam itu meneruskan perilaku-perilaku baik yang menyejukkan dan selalu untuk keselamatan atau rahmatan lil alamin.

Memang penyempurnaan perilaku baik atau akhlakul karimah itu banyak ujiannya, terutama di zaman ini yang semakin kompleks. Akan tetapi, niat untuk selalu berbuat baik itu seharusnya tetap ada, apapun ujiannya. Apa yang terjadi di muka bumi ini adalah pelajaran bagi manusia agar dirinya tetapi membawa kebaikan. Apakah dirinya akan tetap menjaga akhlakul karimah, atau malah terjerumus pada perilaku yang destruktif? Semua berpulang pada dirinya. Memang tidak mudah, karena justru perang yang sebenarnya adalah perang melawan hawa nafsu. Dan itu ada di dalam diri kita masing-masing, bukan di orang lain. Seperti kata pepatah

“kita bisa membawa seekor kuda ke tempat minum, tetapi tidak bisa memaksa kuda itu untuk minum”.

Godaan bisa dalam bentuk jabatan, ekonomi, dan politik. Manusia yang mempunyai prinsip keagamaan yang kuat, tidak mungkin korupsi. Tidak mungkin memanfaatkan jabatan untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompoknya. Jabatan adalah amanah yang harus dikerjakan demi kemajuan organisasi, masyarakat, serta negara. Sekecil apapun cakupannya, tetapi esensi kebaikan akan dirasakan besar dan luas. Mereka yang mendapat amanah menjadi wakil rakyat atau menempati posisi di lembaga negara, harus berefek pada kemajuan negara.

Kejadian akhir-akhir ini di dunia politik sebenarnya dapat menjadi momentum bagi para wakil rakyat untuk menunjukkan keberpihakan kepada rakyat. Partai yang berlandaskan Islam dapat menjabarkan hakekat rahmatan lil alamin ini secara konkrit. Misalnya, dalam pemberantasan korupsi KTP-el yang sedang digalang oleh KPK, seharusnya DPR mendukung penuh, bukan malah membebani dengan hak angket. Walaupun kata para ahli hukum itu tidak efeknya terhadap KPK, tetapi scara esensi kita bisa melihat niat dasarnya.

Dalam kasus dugaan penistaan agama oleh BTP (Basuki Tjahaja Purnama) adalah momen yang baik bagi umat Islam untuk benar benar menunjukkan agama penuh rahmat. Bila memang itu harus masuk ke ranah hukum, sudah sewajarnyalah umat Islam mempercayakan sepenuhnya kepada aparat hukum. Tidak perlu bernafsu untuk menghukum seberat-beratnya. Bahkan akan sangat indah bila justru umat Islam memaafkannya. Hal ini akan membuat Islam sebagai agama rahmat itu memang benar-benar hadir di masyarakat. Bukan sekedar teori atau pepatah saja.

Saat ini, putusan telah diambil, menurut Majlis Hakim BTP dinyatakan bersalah dan divonis 2 tahun. Kita harus mampu menerima apa adanya. Demikianlah yang terjadi. Setelah kepastian ini, umat Islam akan lebih baik memaafkan dan memohon kepada Majelis Hakim membebaskan BTP dari jeruji besi. Pada saat yang sama para pendukung BTP harus menerima ini sebagai keputusan hakim, tidak perlu menuntut pembebasan. Cukup mengirim do’a agar BTP tetap sehat dan mendapat kekuatan lahir bathin.

Bila hal ini dilakukan oleh kedua belah pihak, maka titik awal kemajuan bangsa-negara Indonesia akan sangat signifikan. Indonesia akan menjadi model negara damai dengan kekuatan supremasi hukum. Momen ini dapat menjadi landasan bagi loncatan-loncatan kemajuan sosial, ekonomi, dan politik untuk kesejahteraan masyarakat. Bukan untuk pelampiasan hawa nafsu semata. Maka negara ini akan sejahtera sesuai dengan makna Islam Agama Rahmat.

 (Penulis adalah Rektor Universitas Trilogi/ Guru Besar Statistika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here