Home News Waspada! Ini Modus Baru Penipuan lewat WhatsApp dan Email

Waspada! Ini Modus Baru Penipuan lewat WhatsApp dan Email

0
SHARE

Matanurani, Jakarta  РModus penipuan secara online terus saja berkembang. Dalam melakukan aksinya, para pelaku kerap menggunakan aplikasi yang banyak digunakan oleh masyarakat seperti WhatsApp dan email.

Untuk modus penipuan melalui dua sarana tersebut, para pelaku melakukan social engineering. Mereka memanipulasi korban untuk mengunduh sebuah file apk yang sebenarnya virus yang dapat menyedot data-data sensitif, seperti rekening bank.

Sepanjang 2023, aksi penipuan menggunakan file apk ini dilancarkan dengan berbagai cara. Mulai dari tampilan foto paket, tagihan pajak, hingga undangan pernikahan.

Pada masa Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, aksi penipuan menggunakan file apk ini bahkan dilakukan dengan modus pemberitahuan tempat pemungutan suara (TPS).

Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan pada dasarnya untuk mencegah jadi korban adalah tak mempedulikan kiriman file apk.

“Jangan didownload APK. APK itu kan kayak program. Waktu kamu buka itu kan pasti dia download softwarenya,” kata dia saat acara Peluncuran Literasi Digital Publik 2022, mengutip CNN Indonesia.

Pasalnya file itu menjadi jembatan masuk bagi malware atau program jahat yang bisa membuat pelaku mengakses HP korban dan mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan untuk menguras rekening atau dompet digital.

Berikut ini merupakan beragam modus yang dilakukan penipu untuk menjerat korbannya mengundung file apk.

Surat Peringatan Pajak

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengingatkan para wajib pajak untuk berhati-hati ketika menerima surat elektronik yang berisi peringatan pajak. DJP meminta masyarakat untuk memastikan bahwa surat itu benar berasal dari lembaganya.

“Saya ingin memberikan satu pengingat pada wajib pajak, ini aku minta tolong untuk berhati hati. Banyak e-mail bersifat phising,” ungkap Dirjen Pajak Suryo Utomo.

Salah satu tanda e-mail tersebut patut dicurigai adalah pengirim. Surat pemberitahuan resmi dari DJP pasti akan menggunakan alamat e-mail resmi bukan perorangan.

“Jadi kalau senderunya tidak gunakan @pajak.go.id itu berarti bukan dari DJP. Ini pengingat agar hati hati dalam membuka email yang mungkin bukan dari kami,” katanya.

Apabila masih ragu, WP bisa menghubungi kontak resmi DJP. Baik melalui e-mail, kring pajak maupun sosial media.

Diketahui penipuan menggunakan link phising yang dapat mengambil data pribadi. Hal ini membuat saldo anda di e- wallet tidak aman.

Penipuan Modus Kurir

Penipuan dengan modus kurir paket pernah viral di akhir 2022. gkap dari unggahan di Instagram akun @evan_neri.tftt yang menunjukkan tangkapan layar chat Telegram dengan penipu yang mengaku sebagai kurir dari J&T Express.

Dalam chat tersebut, penipu mengirimkan lampiran dengan nama file ‘LIHAT Foto Paket’ kepada korban, tetapi dalam bentuk apk.

Korban yang tak jeli mengklik file tersebut dan mengunduhnya. Saldo mobile bankingnya pun ludes. Ia menjelaskan korban tidak pernah menjalankan atau membuka aplikasi apa pun atau mengisi user ID atau password di situs lain.

Akun ini menyebut aplikasi yang dikirimkan penipu ini kemungkinan berjalan di latar belakang dan mengambil data korban, sehingga membuat penipu dapat mengakses akun perbankan korban.

Di akun Instagramnya, pihak J&T Express selaku penyedia jasa kurir yang namanya dicatut dalam kasus penipuan ini mengatakan pihaknya tidak pernah meminta pelanggan untuk mengunduh aplikasi melalui chat.

File Undangan Nikah

Akun Twitter (sekarang X) @txtfrombrand sempat membagikan tangkapan layar yang isinya percakapan antara penipu dan calon korban.

Dalam postingannya, penipu mengirimkan file apk atau aplikasi dengan judul ‘Surat Undangan Pernikahan Digital’ dengan ukuran 6,6 MB. Disusul dengan pesan yang isinya “Kami harap kehadirannya,”.

“Setelah bukti resi, sekarang penipuan pakai kedok undangan nikah,” tulis akun @txtfrombrand.

Tak tanggung-tanggung, penipu juga mengajak calon korbannya untuk membuka file apk yang dikirimkan itu, dengan dalih agar korban mengecek apakah isi file tersebut benar ditujukan kepada korban.

Surat Tilang Palsu

Penipuan online modus kiriman file apk kembali berganti wajah lewat pengiriman surat tilang di WhatsApp. Kasus ini sempat viral pada Maret 2023.

Beberapa warganet mengunggah chat dari kontak yang mengaku sebagai pihak kepolisian yang menyatakan penerima pesan sudah melanggar lalu lintas.

Pengirim juga meminta untuk membuka data berjudul ‘Surat Tilang-1.0.apk’ yang turut diunggah dalam pesan WhatsApp itu.

“AWAS! Hati-hati terhadap penipuan menggunakan modus kirim surat tilang lewat WhatsApp seperti ini. Jangan sekali-kali mengklik/download file dgn ekstensi “.apk” dari orang tak dikenal di gadget anda,” kicau akun @MurtadhaOne1.

Catut MyTelkomsel

Penjahat siber beralih modus dengan mengatasnamakan MyTelkomsel, aplikasi milik operator seluler Telkomsel, untuk membuat pelanggan mengklik file apk.

Modusnya calon korban diminta mengakses dan kemudian mengunduh file apk yang dikirimkan via pesan singkat.

Setelah proses instalasi selesai, calon korban akan diminta memberikan izin akses ke beberapa aplikasi termasuk foto, video, SMS, dan akses akun layanan perbankan digital atau fintech.

Jika akses sudah diberikan ke pelaku, maka sangat mungkin bagi pelaku kejahatan memiliki kontrol terhadap gawai korban serta mengetahui seluruh informasi rahasia seperti PIN, password, dan kode OTP.

“Jangan segera percaya jika ada penawaran hadiah secara langsung, serta tidak memberikan informasi data pribadi maupun data layanan jasa keuangan seperti perbankan yang bersifat rahasia,” ujar Saki Hamsat Bramono, Vice President Corporate Communications Telkomsel lewat keterangan tertulis.

Telkomsel memastikan tidak pernah meminta kode verifikasi dalam bentuk apapun, termasuk mengirimkan permintaan kepada pelanggan untuk mengunduh file apk.

Pengumuman dari Bank

Modus penipuan lain adalah pengumuman bank. Korban mengirim pdf yang mengatasnamakan bank tertentu. Seringnya informasi yang muncul adalah mengenai perubahan tarif transaksi dan transfer yang tidak masuk akal.

Psikologis korban dimainkan dengan diberikan dua pilihan, yakni setuju atau tidak setuju. Apabila korban tidak setuju, pelaku meminta korban mengisi formulir di dalam tautan atau link yang disertakan dalam pengumuman palsu tersebut.

Saat korban mengakses link tersebut, maka pencurian data akan berjalan.

Undangan VCS

Modus video call sex (VCS) dari nomor tidak dikenal sempat viral di media sosial dan berpotensi jadi bahan pemerasan.

Salah satu yang mengalaminya adalah akun Twitter @a.dewiangriani. Ia berulangkali mendapat video call dari nomor yang tidak dikenal.

Setelah tiga kali mengabaikan panggilan tersebut, pemilik akun penasaran dan mengangkat panggilan yang keempat. Ternyata, yang muncul adalah perempuan tanpa busana.

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengatakan VCS dari nomor tidak dikenal ini merupakan modus pengancaman kepada seseorang memanfaatkan ketidaktahuan seseorang tentang teknologi.

“Ini pada prinsipnya adalah pemerasan yang memanfaatkan ketidaktahuan atau keamanan seseorang tentang teknologi,” kata dia.

“Kalau ragu dan diperas, hubungi teman yang mengerti dan minta bantuannya untuk menghadapi ancaman-ancaman yang tidak kita mengerti, jangan main mengikuti ancaman saja,” paparnya. (Cnb).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here