Matanurani, Jakarta – Industri Pengolahan Kelapa Indonesia memperkirakan produksi kelapa dalam negeri tahun ini akan meningkat dibandingkan tahun lalu.
Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) Amrizal Idroes mengatakan, peningkatannya bisa mencapai 8,5% hingga maksimal 10%.
“Angka pastinya memang belum ada. Tapi saya lihat produksinya lebih baik. Ketersediaan bahan baku di lapangan juga banyak,” ujar Amrizal, Senin (26/3).
Menurut Amrizal, produksi kelapa yang membaik ini sudah terlihat sejak 2017. Perbaikan produksi ini akibat curah hujan yang baik dibandingkan tahun 2016. Dia mengatakan, tidak seperti komoditas lainnya, kelapa memang sangat mengandalkan faktor cuaca.
Lebih lanjut Amrizal pun menjelaskan bahwa peningkatan produksi kelapa tersebut akan bisa terserap oleh industri dalam negeri. Pasalnya, produksi industri pengolahan kelapa masih di bawah kapasitas terpasang.
Sementara itu, Amrizal pun membenarkan bila harga kopra saat ini tengah menurun. Menurutnya, harga kopra di tingkat petani sekitar Rp 7.000 – Rp 7.500 per kg, sementara di tingkat pabrik sekitar Rp 8.000 – Rp 10.000 per kg.
Menurutnya, penurunan harga tersebut disebabkan oleh dua hal. Pertama karena menurunnya harga minyak kelapa (CNO) internasional, serta berkurangnya permintaan asing atas kelapa bulat. Sementara, petani tidak memiliki alternatif pasar lain.
“Kebutuhan industri pasti meningkat. Tapi kan ada faktor seasonal. China misalnya permintaannya berkurang karena menjelang imlek, kalau Thailand dan Vietnam karena produksi dalam negeri meningkat. Mereka pasti mengutamakan produksi dalam negeri terlebih dahulu,” terang Amrizal.
Meski begitu, Amrizal pun menjelaskan bahwa permintaan asing atas kelapa sudah mulai berangsur membaik.(Ktn).




































