Matanurani, Jakarta – Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian periode 2004-2008, Prof Dr Kaman Nainggolan menilai potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) perlu terus dikembangkan karena keanekaragaman jenis tanaman hutan di Indonesia sangat beragam dan besar manfaatnya dan berperan sebagai komoditi andalan dengan nilai jual yang tinggi.

“Pada kelompok resin atau komoditi HHBK Nabati, gaharu merupakan komoditi andalan dengan nilai jual tinggi yang banyak ditemukan di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Kaman, saat Fokus Group Diskusi (FGD) bersama Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Hotel Le meridien, Jakarta, Rabu (1/11).
Menurut Kaman, Indonesia merupakan pengekspor gaharu terbesar di dunia mencapai 600 ton per tahun. Negara-negara tujuan ekspor meminati gaharu karena memiliki fungsi yang banyak digunakan sebagai bahan kosmetika dan farmasi.
“Arab saudi merupakan negara tujuan ekspor terbesar yakni mencapai 37.8 persen, setelah Singapura 34.9 persen dan Uni Emirat Arab 7.7 persen,” kata Kaman.
Karenanya, menurut Kaman banyak contoh hasil hutan bukan kayu serta potensinya. Selain gaharu, ada rotan, sagu, nipah, biji kepuh, minyak atsiri, nilam, cengkeh, pala dan banyak lainnya.
“Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi HHBK. Jadi, strategi pengembangan ekspornya adalah mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif global,” pungkas Kaman yang juga anggota Pokja Pangan KEIN itu.
Sementara, Totok dari badan penelitian dan pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan pengembangan industrialisasi HHBK masih mengalami tantangan, mulai dari banyaknya ragam dan bentuk jenisnya, hingga pemanfaatannya masih terbatas.
“Jadi perlu pemetaan potensi dan budidaya HHBK, dan pemanfaatannya secara komersial yang mencakup pengolahan dan penasaran serta peningkatan produksi atau produktivitas dan kualitasnya,” kata Totok.
Totok memcontohkan, beberapa potensi HHBK, mulai dari pinus yang getahnya dapat dimanfaatkan sebagai terpentin. Ada kemenyan yang produknya hanya terdapat di Indonesia, Laos dan Myanmar yang berfungsi bahan obat dan parfum dan kemiri yang dapat diolah menjadi bahan biodiesel.
“Kalau melihat potensinya beragam, hanya saja sebaran dari berbagai HHBK itu banyak yang belum diketahui secara pasti,” kata Totok.(Smn).





































