Home News Perpadi Minta HET Beras Medium Ditunda

Perpadi Minta HET Beras Medium Ditunda

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) meminta pemerintah untuk menunda kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras medium. Penundaan itu diminta berlaku hingga masa panen raya, yakni Februari 2018.

Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso menilai kebijakan HET beras medium sangat sulit diterapkan bagi para penggilingan kecil di saat harga gabah kering panen (GKP) mencapai Rp5.300 – Rp5.500 per kilogram (kg). Padahal, mayoritas penggilingan kecil hanya mampu memproduksi beras medium.

“Saya sudah usulkan ke pemerintah untuk ditunda dulu karena yang kecil-kecil tidak mampu beli gabahnya dengan HET yang dipatok Rp9.450 per kg,” ucap Sutarto dalam diskusi Outlook Persaingan Usaha 2018 di Jakarta, Selasa (19/12).

Usulan tersebut disampaikan Sutarto dalam rapat di Kementerian Koordinator Perekonomian.

Menurutnya, dengan harga gabah saat ini, harga beras medium semestinya mencapai Rp9.600 – Rp9.800 per kg. Namun, karena berada di atas HET, penggilingan kecil akhirnya memutuskan untuk berhenti berproduksi sementara waktu.

“Kalau HET premium dibatasi Rp12.800 tidak masalah, tapi medium tidak usah dulu biar yang kecil bergerak dalam beberapa bulan,” paparnya.

Ia menyebut hampir 50% dari total penggilingan kecil yang sebanyak 172 ribu unit sedang tidak berproduksi saat ini. Selain karena produksi padi yang sedang menipis pada bulan ini dan terimbas persaingan tidak sehat, penetapan HET beras medium makin menambah jumlah penggilingan kecil yang berhenti.

“Tapi semua keputusan tergantung pimpinan (pemerintah). Kami sudah mengutarakan kondisi di lapangan dan usulan kami,” imbuh Sutarto.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai masa panen raya. Kondisi panen raya yang akan berlangsung mulai Februari 2018 dinilai akan menjatuhkan harga gabah.

Sebab, harga gabah saat ini dinilai sudah terlalu jauh dari harga pembelian pemerintah (HPP) GKP sebesar Rp3.750 per kg. Pemerintah diminta untuk ikut menyesuaikan HPP yang belum berubah sejak 2015.

“HPP sudah tidak pas lagi. Hari ini harga gabah Rp5.500 per kg, sedangkan HPP Rp3.750 per kg. Apakah nanti akan dikembalikan ke HPP waktu panen raya? Ini persoalan dasar. Kalau dikembalikan, petani pasti akan menjerit,” cetusnya. (Lip).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here