Home News Benny Pasaribu: Industri Komponen Dalam Negeri Perlu di Proteksi

Benny Pasaribu: Industri Komponen Dalam Negeri Perlu di Proteksi

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Kedepan persaingan antar produsen di industri komponen akan semakin menantang. Persaingan tidak hanya terjadi antar produsen di pasar domestik saja, namun juga di pasar regional dan global. Agar dapat terus berkembang, industri komponen di dalam negeri perlu diproteksi dalam rangka memperkuat struktur industri komponen nasional.

“Rantai pasokannya mulai dari bahan baku hingga komponen lokalnya perlu diperluas serta dipertahankan sementara industri hilirnya juga harus dibangun disini,” kata Benny Pasaribu, Ketua Pokja Roadmap Komite Ekomomi dan Industri (KEIN) dalam pengantarnya saat FGD KEIN bersama stakeholder industri komponen lokal di Hotel Le Meridien Jakarta, Selasa (19/12).

Menurut Benny, langkah memperdalam struktur industri komponen lokal ditujukan agar rantai nilai dari sektor hulu sampai hilir semakin kuat sehingga dapat mengurangi ketergantungan bahan impor.

“Industri komponen dalam negeri yang kuat akan membuat ketergantungan terhadap impor dapat diminimalisasi,” ujar Benny.

Karenanya kata Benny, dalam memilih prioritas di sektor-sektor industri, KEIN telah bekerja keras menyusun roadmap industrialisasi sebagai langkah untuk membuat strategi dan memilih 4 (empat) sektor industri unggulan.

“Industri komponen itu merupakan pendukung dari ke empat sektor industri prioritas terpilih, diantaranya industri agro, maritim, pariwisata dan ekonomi kreatif. Nah, jika kita menghasilkan industri komponen, lalu produksinya kemana,? Jika semakin kencang permintaannya, maka industrialisasinya yang perlu dibangun,” kata Benny.

Selanjutnya kata Benny, setelah ada industrialisasi maka diberikan insentif di dalam kawasan industri tersebut dan direkrut tenaga kerja sesuai keahlian bukan pendidikan.

“Sehingga industrialisasi berjalan dengan memanfaatkan komponen dalam negeri,” tegas Benny.

Ketua Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (APERLINDO), Jhon Manoppo menilai industri komponen lokal khususnya perlampuan harus mengusung produk-produk buatan Indonesia dengan tingkat komponen lokal yang tinggi dan diminati di pasar ekspor. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menurut Jhon harus di dorong untuk memberi nilai tambah perekonomian Indonesia.

“Industri perlampuan Indonesia harus memanfaatkan momentum era pasar bebas untuk ikut serta mengisi pasar domestik dan global dengan produk-produk anak bangsa. Karena ini juga akan memberi nilai tambah bagi perekonomian Indonesia,” ujar Jhon.

Sementara Ketua Gabungan Industri Manufaktur Lampu Terpadu Imdonesia (Gamatrindo), Triarso mengakui, industri komponen lokal sulit dijadikan sebagai basis produksi di tanah air.

Banyaknya perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang diikuti Indonesia, membuat impor beberapa komponen berbasis lampu tidak dikenakan bea masuk atau 0%. Sehingga produsen akan lebih memilih mendatangkan produk tersebut dari luar negeri, dibanding membangun pabrik di sini.

Terlebih, biaya produksi komponen di dalam negeri jauh lebih mahal, dan regulasi yang kurang menguntungkan. “Iklim industrinya tidak mendukung, harus ada langkah perubahan struktural dan fundamental,” kata Triarso.

Menurut Triarso banyak aspek yang membuat Indonesia kurang berdaya saing. Pertama, inkonsistensi regulasi yang membuat dunia usaha bingung dan harus mengeluarkan modal lebih besar ketimbang jika investasi di negara lain.

Kedua, hambatan nontarif yang dikeluarkan pemerintah tidak berjalan sesuai ketentuan. Sebab, masih banyak produk yang tidak sesuai standar beredar di masyarakat.

Dslam FGD tersebut hadir Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, I Wayan Dipta,  Direktur Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Said Ridwan, dan Kasie Sumber daya Industri Direktorat ILMATE Kementerian Perindustrian, Agus Kurniawan.(Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here