Matanurani, Gunung Kidul – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, bahwa pihaknya saat ini tengah menggalakan pembangunan hutan serba guna dengan menggabungkan fungsi lindung dan produksi berupa hutan taman.
Salah satu program kerja dari KLHK adalah meningkatkan produksi hutan tanam yang tidak hanya menghasilkan kayu, namun juga hutan yang menghasilkan berupa buah-buahan dan hasil hutan lainnya, seperti jasa lingkungan pariwisata, air, dan karbon, baik di kawasan hutan maupun di areal penggunaan lain.
“Program pembangunan hutan serba guna juga dapat menjadi model pembangunan hutan di areal kegiatan perhutanan sosial, sehingga terbangun hutan yang lestari sekaligus meningkatkan pendapatan bagi masyarakat,” kata Menteri Siti dalam peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) Tahun 2017 di Desa Karangasem, Ponjong, Gunung Kidul, Yogyakarta, Sabtu (9/12).
Menteri Siti mengungkapkan, dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyediaan lahan pembangunan hutan serba guna ini, serta program perhutanan sosial, akan sangat berarti bagi percepatan perluasan penutupan lahan secara ideal, untuk terciptanya lingkungan yang baik, sejuk, bersih dan sehat.
Ia berharap, agar para kepala daerah juga mengajak masyarakat untuk mendukung program penanaman hutan serba guna tersebut. KLHK, lanjut dia, akan siap untuk mendukung kebutuhan bibit yang dapat diperoleh secara gratis. “BUMN, BUMD, dan BUMSI agar dapat ikut terlibat secara nyata dan mandiri dalam mendukung program penanaman ini,” terangnya.
Menteri Siti melanjutkan, adanya prediksi defisit air di Pulau Jawa dan Bali pada tahun 2020 akan dapat ditangkal dengan pentingnya penanaman pohon dalam rangka membangun dan memelihara hutan.
Sehingga, nantinya akan terbangun banyak hutan yang berfungsi sebagai green dam serta memberi manfaat perlindungan keanekaragaman hayati, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penyerapan karbon.
“Kami meminta kepada para pihak untuk menjaga lahan-lahan yang berfungsi lindung, seperti hutan lindung, sempadan sungai, sempadan danau, daerah sekitar mata air, daerah resapan air, daerah rawan bencana, lahan yang mempunyai kelerengan di atas persen dan kawasan pantai berhutan bakau,” paparnya.
Ia menilai, bencana longsor dan banjir yang banyak terjadi di Indonesia juga dapat diatasi dengan melakukan penanaman pohon yang mempunyai kemampuan menyimpan air.
“Seperti pohon beringin, aren, randu, bambu, trembesi, gayam, kluwak, dan lain-lain,” tandasnya. (Smn).





































