Home Nasional Wamen Dikti Saintek Dorong Tempe Naik Kelas Jadi Komoditas Global

Wamen Dikti Saintek Dorong Tempe Naik Kelas Jadi Komoditas Global

0
SHARE

 

Matanurani, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Fauzan mendorong pengembangan tempe tidak hanya sebagai makanan tradisional Indonesia, tetapi juga menjadi komoditas bernilai tambah yang mampu menembus pasar global.

Hal itu disampaikan Fauzan dalam agenda bertajuk “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan”. Menurutnya, pengembangan tempe menjadi salah satu contoh bagaimana riset dan inovasi perguruan tinggi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian.

Fauzan mengatakan, tempe telah menjadi makanan yang melegenda bagi masyarakat Indonesia. Namun, menurut dia, potensi tempe masih dapat dikembangkan lebih jauh melalui pendekatan saintifikasi, inovasi produk, serta penguatan industri.

“Ragi Nusantara ini adalah salah satu ikhtiar untuk mengeluarkan fungsi saintifik dalam kehidupan pertempean. Menarik loh tempe itu, tempe kalau dalam kehidupan sehari-hari itu bisa menjadi metafora,” ujar Fauzan, Rabu (2/9).

Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting untuk mengubah hasil riset menjadi inovasi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi suatu produk. Ia bahkan membayangkan tempe hasil inovasi dapat diproduksi untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

“Saya membayangkan, riset sudah ada. Bahan sudah ada. Inovasi produk yang nanti bisa kita buat. Kita tinggal cari softtaker industri. Yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor,” katanya.

Fauzan menegaskan, konsep dikti saintek Berdampak tidak cukup hanya diukur dari banyaknya riset atau kegiatan akademik. Menurutnya, dampak harus terlihat dari sejauh mana hasil riset mampu memberikan manfaat dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

“Berdampak itu harus kita definisikan. Apakah memiliki value, meningkatkan harkat, martabat ekonomi atau tidak? Kita harus punya definisi itu,” tambahnya.

Ia juga menyoroti perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Perguruan tinggi, kata dia, tidak boleh hanya berputar dalam lingkungan akademik, tetapi harus lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat dan persoalan kehidupan sehari-hari.

Fauzan menyebut target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 serta visi Indonesia Emas 2045 menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk mengambil peran lebih besar.

Menurut dia, target tersebut memiliki konsekuensi terhadap dinamika pendidikan tinggi di Indonesia. Perguruan tinggi perlu berani menggeser paradigma agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.

Fauzan juga menyinggung ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah produk pertanian dari Thailand. Ia mencontohkan ketika masyarakat Indonesia ingin membeli pepaya, beras, maupun durian tertentu, produk tersebut dapat berasal dari Thailand.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses saintifikasi di bidang pertanian Thailand telah berjalan lebih jauh sehingga menghasilkan produk yang memiliki daya saing.

“Di Thailand memang sedang atau bahkan telah berjalan saintifikasi di bidang pertanian. Di Indonesia, ini memang agak lambat,” ungkapnya.

Ia menilai pendidikan tinggi harus menjadi salah satu pusat dalam proses saintifikasi kehidupan. Artinya, hasil ilmu pengetahuan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat dan menciptakan nilai ekonomi baru.

Dalam konteks tempe, Fauzan menilai inovasi produk saat ini masih relatif terbatas. Tempe selama ini banyak diolah menjadi produk seperti keripik atau botok yang masih memiliki karakter pasar lokal.

Ke depan, ia mendorong agar inovasi tempe diarahkan untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar global.

“Bagaimana tempe ini bisa menerobos menjadi komoditas global. Ini yang perlu kita pikirkan atau barangkali kampus mana kira-kira yang bisa menjadi Industri tempe,” pungkasnya. (Bes).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here