Matanurani, Jakarta – Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini, menilai penyelenggaraan pemilu serentak tahun ini sangat membebani para petugas KPPS. Sebab bukan hal yang mudah menyelenggarakan pemungutan suara dan penghitungan suara capres dan caleg dalam satu hari.
Apalagi adanya aturan yang menyebutkan bahwa proses tersebut harus selesai dalam waktu 24 jam. Menurutnya hal itu sangatlah tidak logis.
“Beban pemilu tidak logis. Terlepas kalau bicara pileg digabungkan, sekalipun empat posisi ala 2014 sama-sama tidak logis dan tidak logis menyuruh orang bekerja konstan tanpa jeda 24 jam,” kata Titi di d’Consulate’ Cafe, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, (27/4).
Namun, menurutnya, apa yang saat ini terjadi sudah telanjur dan lebih baik KPU menuntaskan kerja yang sedang berlangsung. KPU diharapkan tetap bekerja secara profesional di tengah carut marut yang terjadi saat ini.
“Kerja-kerja di PPK bukanlah pekerjaan yang mudah. Jadi bagaimana KPU memastikan bahwa di tengah kontroversi dan isu yang berkembang saat ini jajarannya bekerja profesional menghitung suara dengan benar. Apa yang sudah dipilih dikonversikan menjadi pilihan yang sesuai dengan pilihan pemilu,” ujarnya.
Menurut Titi, saat ini para petugas sangat terbebani. Bukan hanya lelah secara tenaga, tetapi juga lelah memikirkan persiapan pemungutan suara. Sebab, ada beberapa kendala seperti, surat suara terlambat sampai di lokasi dan beberapa kendala lain yang memaksa petugas bekerja ekstra keras.
“Jadi bukan karena capeknya, tetapi karena kepikirannya karena hari H itu cukup enggak nih surat suara. Tiba-tiba lagi menghitung, kertas planonya enggak ada, akhirnya kita pakai plano DCT. Sudah menghitung sampai jam dua pagi, ternyata harus hitung lagi, dan itu situasi yang memang secara mental dan psikis harus kita evaluasi. Itu juga ikut berkontribusi,” kata Titi.
Titi menyarankan agar para pemangku kepentingan, terutama pembuat undang-undang, harus lebih memikirkan lagi kondisi di lapangan dalam penyelenggaraan pemilu. Dia pun mengharapkan pemilu serentak capres dan caleg tidak dilakukan pada hari yang sama.
“Bagi kami ini cukup pertama kali pemilu borongan yang sudah kita selenggarakan. Ini bukan desain pemilu serentak ini adalah pemilu borongan,” ujarnya. (Viv)





































