Home Nasional Ekosistem Investasi, Benny: Pabrik Bisa Relokasi tapi Pasokan Bahan Baku dan Lokasinya...

Ekosistem Investasi, Benny: Pabrik Bisa Relokasi tapi Pasokan Bahan Baku dan Lokasinya Bagaimana?

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Benny Pasaribu mengemukakan bahwa ada banyak persoalan dalam ekosistem investasi. Di antaranya soal tumpang tindih dan banyaknya regulasi dan perijinan yang  masih berbelit-belit, kepastian lokasi dan status lahan, rumitnya sistim administrasi perpajakan dan prosedur mengajukan insentif, persoalan peraturan impor dan ekspor, banjirnya impor illegal, dan persoalan ketenagakerjaan dan keamanan investasi.

“Persoalan ini telah sering dikemukakan Presiden dan perbaikannya juga sudah banyak. Tetapi di lapangan masih banyak yang belum ada perubahan. Mental dari sebagian terbesar birokrasi di pusat dan daerah belum signifikan pro investasi,” kata Benny di Jakarta, Jumat (13/9).

Industri yang ada saja lanjut Benny sering terganggu karena misalnya faktor keamanan, kurang lancarnya bahan baku lokal atau impor, kelangkaan pasokan dan tarif energi (listrik dan gas) yang tinggi, belum lagi demo buruh, dan sebagainya. Sehingga lebih terlihat banyak hambatan terhadap investasi.

“Mengatasi itu semua maka saya usulkan quick win dengan mengembangkan kawasan industri yang terkoneksi dengan klaster bahan baku. Sistem Klaster-Kawasan ini perlu dilengkapi dengan kepastian ketersediaan lokasi yang aman, lahan, energi, perijinan satu atap, dekat pelabuhan, insentif perpajakan, dan sebagainya,” jelas Benny.

Setiap Kawasan Industri harus terkoneksi dengan Klaster, lokasi produksi bahan baku dan barang setengah jadi (seperti pabrik CPO), dan Kawasan itu dekat ke pelabuhan. Namun di kawasan ini harus ada kepastian harga/ sewa lahan, jika perlu digratiskan seperti di Vietnam. Celaka bagi investor kalau harga lahan di kawasan industri itu terus meningkat, seperti jualan properti. Hal-hal seperti ini harus diatur tegas. Selain itu, Organisasi Kawasan Industri harus merupakan bagian dari pemerintah pusat, sehingga gangguan dari lokal bisa dimimimalisir.

Dengan demikian, saat ada investor baru terutama karena relokasi industri dari negara lain, maka investor akan punya pilihan lokasi sesuai dengan kawasan industri yang telah dibangun.

“Saya melihat bahwa relokasi pabrik ke Indonesia masih akan menghadapi ketersediaan bahan baku secara kontinu dengan spesifikasi kualitas yang dibutuhkan investor. Padahal di lokasi asal, pasokan bahan baku sudah terjamin,” terang Benny.

Namun setelah di Indonesia, investor wajar mempertanyakan soal bahan baku ini. Jika harus impor, maka ijin impor dan tarif bea masuk haruslah dipermudah agar terjamin kontinuitasnya.

Jika dari dalam negeri maka pasokan bahan baku tersebut harus lancar dan harganya kompetitif. Persoalan bahan baku ini tidak mudah diselesaikan dan masuk jangka menengah-panjang.

Indonesia perlu lebih fokus pada industrialisasi yang bahan bakunya tersedia secara alamiah di dalam negeri, fokus pada produk unggulan daerah.

Untuk itu, KEIN telah menyusun Roadmap Industrialisasi berbasis pada 4 sektor prioritas, yaitu Agroindustri, Maritim, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif.

Khususnya Agroindustri dan maritim, Indonesia mampu menyediakan bahan baku industri yang melimpah. Jika pabrik yang relokasi ke Indonesia membutuhkan bahan baku dari 4 sektor tersebut maka kawasan dan klaster industrinya telah dipetakan sesuai produk unggulan daerah, misalnya industri berbasis CPO ada di Kawasan Industri Sei Mangke, Sumatera Utara. Klasternya ada di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Semua CPO yang diproduksi di Klaster tersebut dibawa lewat laut/ darat dan dimasukkan ke stok bungker di Sei Mangke.

Ratusan jenis produk akhir berbasis CPO dari Kawasan Industri Sei Mangke dapat dengan mudah di ekspor atau untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, seperti margarine, vitamin A dan E, oleo chemical, dan sebagainya.

“Demikian juga untuk komoditas lainnya.
Artinya, ekosistem investasi itu tidak hanya menyangkut regulasi dan perijinan tetapi sangat banyak, termasuk pasokan bahan baku, infrastruktur, dan sebagainya,” pungkas Benny.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here