Matanurani, Jakarta – Industri kehutanan merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar setelah minyak dan gas. Namun kejayaan industri kehutanan tersebut telah lama sirna. Kini industri kehutanan tengah menjadi sorotan dalam hal pengelolaan hasil hutan industri.
Di tengah tuntutan untuk menjaga pengelolaan itulah, KEIN mendorong agar industri kehutanan ini bisa kembali berjaya namun dengan mengelola hutan secara berkeadilan. Salah satu caranya adalah mengolah hasil hutan produksi dengan tetap menjaga dan mendorong pengembangan perekonomian masyarakat sekitar. Artinya pengolahan hutan produksi harus sejalan dengan perlindungan dan peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan.

Ketua Pokja Pangan KEIN, Benny Pasaribu meminta agar upaya industri meningkatkan produksi sejalan dengan upaya industri menjaga kelestariannya. Bila hal itu terjadi, maka niscaya industri kehutanan dapat kembali berjaya seperti di masa lalu.
Karenanya Industri kehutanan harus saling mendukung satu sama lain dalam menjaga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.

“KEIN akan merumuskan langkah-langkah strategis kepada Presiden agar industri pengolahan kayu berjaya dan memberi kontribusi besar dalam struktur ekonomi dan gross national product (GNP) kita,” ujar Benny dalam FGD KEIN, di Jakarta, Selasa (31/10).
Benny bilang, dalam rangka menyusun peta jalan industrialisasi 2045, KEIN berharap pembangunan nasional industri tersebut harus memiliki pendekatan dan konsep berkeadilan. KEIN mendorong agar Industri pengolahan kayu harus mengangkat kemajuan masyarakat. Skema perhutanan sosial pemerintah harus mengait erat dengan entitas bisnis. Small holders diangkat dengan prinsip keadilan.
Di samping itu, pengembangan lain yang ditekankan Benny dalam konfigurasi baru bisnis kehutanan terutama di areal tidak produktif berupa restorasi ekosistem. Karena sifatnya berupa restorasi maka pada tahap awal di 10 tahun pertama, harus dilakukan upaya-upaya yang lebih untuk mengembalikan landscape ke ekologi aslinya.
Pada sisi lain, kata Benny perlu strategi untuk mengelola hutan secara tepat agar sektor kehutanan menjadi sektor unggulan yang dapat berperan memberikan kontribusi bagi perekonomiam nasional.
“Strateginya tentu meningkatkan dan memanfaatkan ketersediaan bahan baku terutama bahan baku kayu dan non kayu serta dari sumber lain yang sustainable atau berkelanjutan untuk menghidupi industri itu sendiri,” kata Benny.
Selain itu kata Benny industri perkayuan perlu direvitalisasi dan direstrukturisasi agar kompetitif serta mengembangkan produk-produk hasil hutan yang bernilai tambah dan memiliki daya saing.
“Bagaimanapun kontinuitas bahan baku dari hasil bumi sendiri dibutuhkan sebagai tantangan industrialisasi Indonesia ke depan,” terang Benny.
Sementara untuk menjaga agar hutan prospektif, sehat dan lestari, Benny sepakat untuk menerapkan konsep SILIN atau Silvikultur Intensif sebagai sarana untuk mewujudkan fungsi optimal hutan produksi.
“Jika metode SILIN bisa memberi manfaat untuk hasil produk hutan tentunya akan terus kita dorong untuk mendukung pemanfaatan hasil hutan ke depan,” tegas Benny.
Hanya saja, Benny berharap semua pihak harus sadar bahwa produk hasil hutan menyangkut ekosistem dan kelestarian alam. Metode SILIN dianggap positif dalam menata kelola hutan.”Industri jadi mengetahui dimana sumber-sumber kayu yang beredar dan diperdagangkan,” katanya
Bambang Widyantoro dari APHI, menyambut baik ajakan KEIN tersebut. Ia bilang hal ini sejalan dengan konsep yang disusun APHI. APHI menyusun konsep hutan terintegrasi dengan industri seperti kayu serpih, bubur kertas, panel kayu, kayu olahan, kayu energi, dan hasil hutan bukan kayu.
Ia bilang, pengklasteran pengelolaan hutan diproyeksikan mampu memberikan devisa tahunan sebesar US$ 97,51 miliar setara dengan Rp 1.268 triliun dan menyerap tenaga kerja hingga 11,5 juta orang serta dana investasi swasta sebesar US$ 166 miliar atau setara Rp 2.158 triliun sampai dengan tahun 2045. (Smn).




































