Home News Ini Dampak Kenaikan Suku Bunga BI yang Bikin Beban Hidup Makin Berat

Ini Dampak Kenaikan Suku Bunga BI yang Bikin Beban Hidup Makin Berat

0
SHARE
A woman holds Indonesian rupiah notes at money changer in Jakarta, March 23, 2015. Indonesia's finance minister said on Monday he will work with the central bank to strengthen the rupiah, which hit a near 17-year low against the dollar last week. REUTERS/Beawiharta

Matanurani, Jakarta – Sederet dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) bakal dirasakan masyarakat Indonesia, mulai dari membengkaknya biaya pinjaman usaha hingga turunnya penciptaan lapangan kerja.
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen pada Kamis (20/10).

Suku bunga deposit facility juga naik sebesar 50 bps menjadi 4 persen dan suku bunga lending facility naik sebesar 50 bps menjadi 5,5 persen.

“Berdasarkan asesmen menyeluruh dan proyeksi ke depan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19 dan 20 Oktober memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan kenaikan suku bunga acuan itu.

Lantas, bagaimana dampak dari kenaikan suku bunga BI?

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menjelaskan ada beberapa dampak signifikan yang bakal dirasakan masyarakat Indonesia imbas kenaikan suku bunga BI.

1. Biaya KPR hingga Pinjaman Usaha Bengkak
Pengetatan moneter ini bakal membuat tingkat suku bunga acuan di perbankan dan lembaga keuangan konvensional lain ikut membengkak. Sehingga biaya kredit ke bank bakal lebih mahal, termasuk KPR dan kredit kendaraan bermotor.

“Jadi dampaknya untuk mendapatkan akses usaha menjadi lebih mahal biayanya. Ini berdampak juga mengurangi pertumbuhan ekonomi masyarakat,” jelas Faisal, Kamis (20/10).

2. Penyaluran Kredit Anjlok
Menurut data Juli lalu yang dimiliki Faisal, tingkat pertumbuhan kredit perbankan masih terbilang bagus. Bahkan, masih bisa mencapai 10 persen.

“Efek pengetatan moneter itu kan terjadi setelah Juli. Kita belum lihat dampaknya terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Logikanya akan turun pertumbuhan dan penyalurkan kreditnya. Saya rasa sudah berada di level single digit, di bawah 10 persen,” ujarnya.

3. Pertumbuhan Sektor Riil Terhambat
Faisal menjelaskan, penyaluran kredit yang berkurang atau terhambat bakal berdampak langsung kepada pertumbuhan di sektor riil.

“Otomatis pertumbuhan sektor riil karena kekurangan dana atau terhambatnya penyaluran dana akan membuat pertumbuhannya juga terhambat,” jelasnya.

4. Masyarakat Lebih Pilih Menabung
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Teuku Riefky mengatakan suku bunga acuan BI yang naik akan membuat perilaku masyarakat berubah dalam mengalokasikan uang.

“Dampaknya akan ada perubahan perilaku masyarakat dari konsumsi ke saving (menabung) karena imbal hasil dari saving harusnya meningkat,” ujar Riefky.

Faisal mengamini anggapan tersebut. Ia menjelaskan tingkat suku bunga yang lebih tinggi menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menyimpan uang atau menabung di bank.

“Bagi konsumen atau nasabah, mereka akan lebih menyimpan uang daripada spending. Karena inflasi tinggi membuat spending harga jadi lebih mahal. Tingkat spending bakal berkurang dan masyarakat cenderung menyimpan dana di bank atau lembaga keuangan,” papar Faisal.

5. Lapangan Kerja Baru Berkurang
Jika melihat dampak lebih jauh, Faisal menilai kenaikan suku bunga acuan bisa mengganggu usaha sektor riil sehingga bisnis terhambat dan ketersediaan lapangan kerja di Indonesia bakal bermasalah.

“Ini ada kaitannya dengan penciptaan lapangan pekerjaan. Jadi kesempatan untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak menjadi terhambat,” pungkasnya.(Cen).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here