Home News Hingga 20 Tahun ke Depan Indonesia Masih Kecanduan Bahan Bakar Fosil

Hingga 20 Tahun ke Depan Indonesia Masih Kecanduan Bahan Bakar Fosil

0
SHARE
Ilustrasi

Matanurani, Jakarta – Kementerian BUMN mengungkap Indonesia masih membutuhkan bahan bakar fosil (fossil fuel) selama dua dekade atau 20 tahun ke depan, meski pemerintah mengejar target nol emisi karbon pada 2060 atau lebih cepat.

Wakil Menteri BUMN I Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, dalam transisi energi saat ini, pasokan fossil fuel masih diperlukan untuk memperkuat ketahanan energi.

Karena itu perusahaan pelat merah di sektor energi seperti PT Pertamina (Persero) dan PT PLN masih melakukan eksplorasi energi berbasis fosil, di samping menjadi pioner dalam energi bersih.

Pria yang akrab disapa Tiko itu memastikan Pertamina masih melakukan eksplorasi di Hulu, sementara PLN mengoperasikan berbagai pembangkit listrik berbasis batu bara.

“Pertamina dan PLN menjadi katalis untuk mencapai target (pengurangan karbon), menjaga ketahanan energi, menjaga reliability energy, tapi juga secara bersamaan melakukan pointer untuk transisi energi,” ujar Tiko dalam gelaran ‘Navigating Indonesia’s Path: Insight for Today, Visions for Tomorrow’, Rabu (11/10).

“Ini penting, pada waktu kita melakukan transisi energi, kita tidak boleh lupa harus ada ketahanan energi dan reliability-nya, tidak mungkin kita melakukan transisi tanpa ketahanan dan reliability,” lanjut dia.

Pertamina, memang mulai memproduksi sumber energi bersih. Salah satunya, Biosolar 35 persen (B35) yang sudah disalurkan sejak 1 Juni 2023.

Dalam konteks ini, perseroan melakukan realisasi penyiapan sarana dan fasilitas implementasi pencampuran Biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan bakar nabati (BBN) berbasis crude palm oil (CPO).

Di sisi lain, perusahaan juga melakukan eksplorasi hulu untuk memenuhi BBM fosil.

“Pertamina walaupun mulai shifting ke biofuel, mulai shifting menggunakan Etanol, tapi mereka tetap melakukan eksplorasi hulu karena kita butuh fossil fuel sampai dengan dua dekade ke depan, tetap,” ucapnya.

Tiko mengaku beberapa kesempatan terakhir pihaknya melakukan komunikasi publik atau memberikan pemahaman kepada publik perihal transisi energi di dalam negeri.

“Bahwa tidak mungkin base load di Jawa tiba-tiba mati karena base load di Jawa ini semuanya batu bara.Nah ini tentunya butuh perencanaan dan satu planning yang akurat, tapi juga mempertahankan ketahanan dan reability-nya, jadi transisi ini,” beber Wamen BUMN. (Sin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here