Matanurani, Jakarta – Pemerintah meyakini lebih siap mengantisipasi kemungkinan melonjaknya harga bahan pangan, terutama beras pada akhir 2018.
Harga gabah mulai merangkak naik, namun diyakini tidak akan diikuti melonjaknya harga komoditas beras. Terlebih persediaan Perum Bulog tahun ini lebih baik.
“Tahun lalu mulai Oktober, harga berasmulai naik, tetapi waktu itu kan tidak ada impor. Sekarang tentunya pemerintah sudah lebih siap, sudah mengantisipasi salah satunya dengan melakukan impor”, ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto, dalam keterangan tertulis, Kamis (6/9).
Menurut Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto, selama stok mencukupi harga beras diyakini akan tetap stabil. “Menjaga harga beras adalah hal mutlak yang harus dilakukan pemerintah. Kalau tidak, dampaknya akan luar biasa ke inflasi,” tuturnya.
Cadangan beras pemerintah tidak hanya yang ada di gudang-gudang Bulog. Stok beras nasional terutama diperoleh dari hasil panen petani.
Berdasarkan Angka Ramalan I (ARAM I) tahun 2018, Luas Panen Padi bulan Januari – Agustus 2018 sebesar 12,18 juta ha.
Diperkirakan pada periode tersebut produksi padi mencapai 62,76 juta ton GKG, dengan produktivitas sebesar 5,1 ton/hektar. Sehingga produksi berasbulan Januari – Agustus 2018 diperkirakan sebesar 39,37 juta ton.
Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) membuat perkiraan konsumsi beras nasional pada periode Januari – Agustus 2018 sebesar 21,57 juta ton.
Angka ini merupakan perkiraan kebutuhan beras untuk konsumsi rumah tangga dan konsumsi tidak langsung (horeka, industri, dll) sebesar 20,35 juta ton, ditambah perkiraan penggunaan beras non pangan sebesar 1,22 juta ton.
Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementan, Ketut Kariyasa, mengatakan dengan demikian pada periode tersebut (Januari – Agustus 2018) terdapat surplus produksi beras sebesar 17,81 juta ton. Kelebihan produksi beras tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan beras selama 4 bulan ke depan.
“Selain itu adanya kegiatan panen yang masih akan berlangsung selama 4 bulan ke depan, maka ketersediaan berasakan terus bertambah,” jelasnya.
Dalam rilis Inflasi Senin (3/9) lalu, BPS menyebut bahan makanan menyumbang deflasi terbesar yakni 1,10 persen sehingga memberi andil terhadap deflasi sebesar 0,24 persen.
Berbagai harga komoditas pangan pokok penyumbang deflasi di antaranya telur ayam yang turun di 62 kota. Selain telur ayam, daging ayam, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, serta kelompok sayur mayur juga mengalami penurunan harga.
Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, terjadinya deflasi pada Agustus merupakan cermin terjaganya stabilitas kebutuhan pangan, yang sejalan dengan upaya pemerintah untuk terus menjaga kepercayaan masyarakat. (Tri)




































