Matanurani, Batam – Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan pemerintah akan mendorong sektor industri manufaktur, guna membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
“Kalau kita lihat, suatu negara kalau ingin menjadi negara berpendapatan tinggi, tidak terjebak di middle income countries, seharusnya pertumbuhan sektor industri harus lebih besar dari pertumbuhan ekonomi,” ujar Iskandar di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (12/4).
Dia menambahkan, kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini kebalikannya, di mana pertumbuhan ekonomi justru ditopang oleh sektor-sektor lain di luar industri. Sehingga membuat nilai tambah dan kualitas dari pertumbuhan ekonomi tergolong rendah.
Sejak 2005, sektor industri terus mengalami penurunan. Sedangkan pada 2017, kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya sebesar 20,2 persen.
“Berarti pertumbuhan sektor-sektor lain lebih cepat dari pertumbuhan industri. Kalau pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari sektor industri, berarti pertumbuhan sektor lain melampaui industri. Artinya memproses sumber daya alam (SDA) lebih lambat dibandingkan dengan extract SDA. Ini nilai tambah ekonomi jadi lebih rendah. Untuk dorong produktivitas suatu negara jadi negara maju dia harus dorong sektor industri,” imbuhnya..
Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku dan barang modal untuk industri masih sangat tinggi. Dalam dua tahun ini, komposisi impor Indonesia didominasi oleh bahan baku sebesar 75 persen, sementara barang modal 16 persen dan 9 persen barang konsumsi.
Dengan adanya peningkatan industri mulai dari hulu hingga hilir, maka ketergantungan impor akan berkurang. “Daya saing industri kita lebih rendah dalam pasar ekonomi global. Ini jadi perhatian pemerintah, bagaimana sektor industri kembali ke kejayaannya,” tandasnya. (Mer).




































