Home Ekonomi IMF Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen Hingga 2019

IMF Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen Hingga 2019

0
SHARE

Matanurani, Nusa Dua – Dana Moneter Internasional atau IMF dalam laporannya yang berjudul World Economic Outlook Oktober 2018, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 dan 2019, hanya akan sebesar 5,1 persen.

Proyeksi tersebut jauh lebih rendah dari target pemerintah yang ditetapkan dalam APBN 2018 dan 2019, yang masing-masing sebesar 5,4 dan 5,2 persen.

Kepala Ekonom IMF, Maurice Obstfeld menjelaskan, proyeksi tersebut utamanya dipicu faktor global yang terus memengaruhi perekonomian domestik, terutama yang dipicu oleh mengetatnya kebijakan moneter,  harga minyak mentah global hingga perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

“Pengetatan bertahap suku bunga The Fed dan general tightening di semua aspek ini, memang berdampak ke emerging market, dan ini memang ada hubungannya ke nilai tukar. Dolar menguat. Satu cara melihat ini adalah, meski rupiah melemah 10 persen, tapi depreciation against trade partners about empat persen saja,” tuturnya, saat konferensi pers di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10).

“Indonesia memiliki success story, meskipun kita menurunkan proyeksi, karena kebijakan pengetatan suku bunga, harga minyak dan perang dagang AS-China. Tetapi ,kami lihat pertumbuhannya masih fairly strong dan ada opportunity untuk pemerintah membawa level Indonesia untuk lebih konsisten, karena Indonesia memiliki pertumbuhan penduduk,” tambahnya.

Menurut Maurice, dengan adanya pertumbuhan penduduk atau bonus demografi tersebut, maka Indonesia cenderung lebih mampu untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi kedepannya.

“Indonesia akan dapat tax revenue yang banyak dengan investasi di education system, di infrastructure, dan safety net, ini akan menguntungkan banyak orang. Kami ingin Indonesia melihat hal itu, untuk menaikan human capital,” tegasnya.

Selain itu, lanjut dia, untuk menopang penguatan ekonomi, infrastruktur memang harus terus digenjot oleh pemerintah, terutama dengan membuka investasi asing langsung untuk mestimulus percepatan pendanaan infrastruktur tersebut.

“Kami juga berpikir, Indonesia bisa lebih diuntungkan dari foreign direct investment yang lebih banyak yang bisa memenuhi infrastructure demand. Indonesia sangat attractive dengan fewer regulation dan restriction,” ungkapnya.(Viv).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here