Benny Pasaribu
ENGAKUAN sepihak oleh pemerintahan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel terus menuai protes di berbagai negara.
Sebagian besar negara-negara di dunia menyatakan sejumlah alasan penolakannya termasuk Indonesia.
Presiden Jokowi dengan cekatan dan tepat menyampaikan suara Indonesia yang mengecam pengakuan sepihak dari Amerika Serikat (AS) atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan pengakuan itu.
Dalam konferensi pers di Istana Bogor kemarin (7/12), Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa pengakuan sepihak bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia dan melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB, di mana AS menjadi anggota tetapnya.
Presiden pun menegaskan, pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia tetap konsisten terus bersama dengan rakyat Palestina memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya sesuai dengan amanah UUD 1945.
Dan pemerintah Indonesia telah berkomunikasi dengan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk segera mengadakan sidang khusus serta meminta PBB untuk segera bersidang dan menyikapi pengakuan sepihak AS.
Bahkan Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi untuk segera memanggil Duta Besar AS di Indonesia Joseph R Donovan untuk menyampaikan sikap Indonesia terkait pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
Bagi saya, pernyataan sikap yang tegas dari Presiden Jokowi tersebut patut kita acungi jempol dan sangat mengapresiasi substansi yang disampaikan.
Menurut saya, sedari awal, Bangsa Indonesia selalu hadir dan setuju dengan bangsa Palestina yang merdeka. Hal ini sesuai dengan dasar negara Pancasila.
Khususnya persoalan kota Yerusalem yang sering diperebutkan antara Palestina dan Israel haruslah dicarikan solusi permanen melalui perundingan internasional. Menurut saya, sebaiknya kita mendukung pendapat dijadikannya Yerusalem sebagai suatu wilayah khusus international, sehingga tidak lagi menjadi bagian dari wilayah suatu negara atau agama tertentu. Saya yakin, inilah satu-satunya solusi permanen dan terbaik. Sebab jika tidak, Yerusalem akan selalu menjadi daerah konflik yang akan selalu diperebutkan.
Memang, jika dicermati secara eksplisit, pernyataan Presiden Trump sudah keluar dari kesepakatan dan Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Palestina. Dan hal ini bisa memicu konflik antarnegara dan antaragama jika tidak segera dilakukan tindakan mitigasi. Karena kepentingan dunia khususnya perdamaian internasional jauh lebih utama dari pada kepentingan pemerintah AS sendiri.
Untuk itu, Kemenlu RI perlu segera menindaklanjuti perintah Presiden Jokowi tersebut.
Dalam kesempatan ini kita berharap kepada seluruh komponen bangsa Indonesia agar tetap arif dan bijaksana dalam mengambil sikap dan tindakan menolak pernyataan Presiden Trump. Kita harus mengutamakan kepentingan bersama Indonesia dengan menjaga persatuan antaranak bangsa di dalam negeri. Yang terpenting, kita jangan sampai terpancing dan emosional dalam merespons pernyataan Presiden AS Trump tersebut.
Kita semua menyaksikan Pemerintahan Jokowi -JK sedang sedang giat-giatnya mendorong pembangunan di segala bidang kehidupan. Pemerintah sedang berupaya terus menjaga dan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang terus membaik dengan mempermudah melakukan bisnis dan investasi. Semua itu dilakukan untuk mempercepat pembukaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.
Jangan sampai karena pernyataan Presiden Trump lantas pembangunan ekonomi bangsa kita menjadi terganggu. Kita perlu lebih arif dan bijaksana dalam merespons pernyataan Trump.
Semoga.
(Penulis adalah Wakil Ketua Umum Partai Hanura).





































