Menanggapi informasi yang ramai beredar di Media Sosial pada hari ini dan seolah-olah ada pernyataan Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja ke Hongkong yang dimuat di South China Morning Post (SCMP) dan dikutip serta ditanggapi oleh pengamat ekonomi Jake Van der Kamp. Berikut tanggapan Dr Benny Pasaribu, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) kepada wartawan matanurani Simon Andar, Rabu (3/5), di Jakarta.
Benny mengungkapkan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak layak untuk dipercaya. Viral tersebut sengaja diedarkan untuk mendiskreditkan Presiden Jokowi dan mengadu domba antara Presiden dan Pembantunya. Ini pasti berita bohong atau hoax yang dibuat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Memang, Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Hongkong bertemu dengan sejumlah pengusaha di Hongkong beberapa waktu lalu. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi tidak pernah mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada urutan ke – 3 terbesar di dunia setelah India dan China. Dan saya telah berulang-ulang memutar videonya untuk memastikan bahwa Presiden Jokowi tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu.
Menurut Benny pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,02 persen, berada di urutan ke – 3 di antara negara-negara G20, setelah India dan China. Dari data yang dikeluarkan oleh bank dunia jelas menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi terbesar ke – 3 diantara negara-negara G20.
Saya melihat isu-isu yang berkembang di media sosial itu memang cenderung untuk nyeleneh dan mencari-cari kesalahan dan juga bermaksud mengadu domba antara Presiden dan tim ekonominya. Karenanya, kita harus lebih berhati-hati untuk mengedarkan pernyataan-pernyataan atau informasi yang akurasinya sangat rendah. Dan saya menganggap informasi yang beredar sepulangnya Presiden dari Hongkong tersebut adalah hoax dan tidak patut untuk disebarluaskan.
Seperti diketahui Indonesia telah dijadikan sebagai negara tujuan investasi dari negara-negara maju baik dari Eropa, Amerika, China, Jepang, dan Korea Selatan. Hal ini tentu menandakan bahwa prospek ekonomi Indonesia itu sangat besar, potensi ekonomi Indonesia itu luar biasa besar, dan kita hanya membutuhkan adanya stabilitas politik dan keamanan yang kondusif untuk berinvestasi. Kalau ada gangguan-gangguan politik, keamanan misalnya dengan radikalisme dan intoleransi maka investor kita tentu akan menunda investasinya di Indonesia. Dan tentu saja yang dirugikan adalah rakyat Indonesia.
Karenanya, Indonesia berpotensi sekali atau sangat besar potensinya untuk menjadi negara terbesar ke – 4 di dunia berdasarkan PDB pada tahun 2045. Sekarang saja sudah masuk dalam anggota negara G20 di urutan ke – 8 berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) dari sisi PDB perkapita.
World Economic Forum (WEF) telah merilis analisisnya atau laporannya tahun 2017 bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara terbesar ke – 5, atau naik dari urutan ke – 8 menjadi ke – 5 di dunia pada tahun 2030. Sementara perusahaan konsultan terbesar di dunia (Price Waterhouse Coopers) juga merilis laporannya pada tahun 2017 bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara terbesar ke – 4 di dunia pada tahun 2050.
Artinya, dunia mengakui adanya kemajuan pembangunan yang signifikan selama pemerintahan Presiden Jokowi dan bahkan dunia luar yakin Indonesia bisa mencapai negara terbesar ke – 4 dunia pada tahun 2050. Kenapa kita harus gontok-gontokan diantara sesama anak bangsa? Tentu saja pemerintahan sekarang masih menghadapi berbagai kelemahan dan tantangan. Masalah kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial masih cukup tinggi. Semua itu memerlukan stabilitas politik, keamanan, dan kerja bersama antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Selanjutnya Indonesia harus fokus pada pengembangan sumber daya manusia, riset dan teknologi.
Oleh : Simon Andar




































