Home Nasional Ketika Rakyat Sedang Sulit Duit, Bos LPS Sesumbar: Minat Menabung Tumbuh Pesat

Ketika Rakyat Sedang Sulit Duit, Bos LPS Sesumbar: Minat Menabung Tumbuh Pesat

0
SHARE

 

Matanurani Jakarta – Tak sedang bercanda, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu mengeklaim, minat menabung masyarakat melonjak. Semoga bukan ‘omon-omon’.

Ternyata, Anggito mengacu kepada hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) dari LPS, periode Agustus 2026 yang merekam menguatnya hasrat masyarakat untuk menabung. Seiring meredanya kenaikan harga bahan pangan dan BBM. Namun, ada catatan terkait kemampuan riil finansial warga yang justru tergerus.

Fenomena tersebut tecermin dari Indeks Menabung Konsumen (IMK) Agustus 2026 yang menguat 1,6 poin secara bulanan, menjadi 79,4.

Penguatan tersebut ditopang oleh melonjaknya Indeks Kemauan Menabung (IKMM) sebesar 3,4 poin, ke posisi 86,9. “Di sisi lain, Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) justru turun 0,2 poin ke level 71,8,” kata Anggito di Bandung, Jawa Barat (Jabar), Rabu (30/9).

Berdasarkan hasil survei LPS itu, anjloknya kemampuan keuangan riil masyarakat, tecermin dari membengkaknya jumlah responden yang mengaku, sama sekali tidak pernah menabung. Angkanya melonjak dari 37,2 persen pada Juli 2026, menjadi 38,1 persen pada Agustus 2026.

Sementara itu, porsi warga yang menabung di bawah target bulanan, tetap tinggi di level 38,1 persen. Goncangan ekonomi paling tajam, sangat dirasakan kelompok rumah tangga (RT) yang penghasilannya di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Mereka mengalami keanjlokan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) paling dalam hingga 2,2 poin.

Tekanan ekonomi ini dipicu oleh terbatasnya lapangan kerja serta kemarau panjang yang memicu kekeringan dan gagal panen di berbagai sentra pertanian.

Meski demikian, gairah dan niat menabung secara umum tertolong oleh persepsi publik yang menilai situasi mulai berangsur kondusif. Warga yang menganggap saat ini merupakan momen tepat untuk menabung naik menjadi 24,7 persen (dari sebelumnya 23,2 persen pada Juli).

“Bahkan, persentase responden yang sangat optimistis bahwa tiga bulan mendatang (November 2026) adalah waktu terbaik untuk menumpuk simpanan melompat drastis dari 28,5 persen menjadi 31,8 persen,” kata mantan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) itu.

Secara akumulatif, IKK Agustus 2026 tercatat memang terkoreksi tipis 0,4 poin ke level 83,8 akibat penurunan Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) sebesar 2,5 poin ke level 61,5.

Namun, Indeks Ekspektasi (IE) masa depan justru berhasil merangkak naik 1,1 poin menembus ambang optimistis di angka 100,5.

Kelompok Rumah Tangga berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan menjadi satu-satunya segmen yang relatif kebal terhadap tekanan ekonomi musiman ini, di mana tingkat IKK dan IMK mereka konsisten bertahan solid di atas batas netral (level 100).(Ini).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here